
Keterangan Gambar : Catatan 94 orang meninggal saat berada di pengungsian gempa Flores, Nusa Tenggara Timur
Perwirasatu.co.id , NTT - Gempa hanya mengguncang dalam hitungan detik, tetapi bencana dapat berlangsung berminggu-minggu setelah tanah kembali tenang. Catatan 94 orang meninggal saat berada di pengungsian gempa Flores, Nusa Tenggara Timur, memunculkan pertanyaan penting: bagaimana kondisi kesehatan penyintas selama masa darurat, dan sejauh mana sistem pengungsian mampu melindungi mereka yang telah selamat dari dampak langsung gempa?
BNPB mencatat gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026 menyebabkan 142 orang meninggal. Sebanyak 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sedangkan 94 lainnya meninggal ketika berada di pengungsian. ANTARA pada 15 September 2026 melaporkan angka tersebut berdasarkan keterangan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
Angka 94 itu tidak boleh serta-merta ditafsirkan sebagai kematian akibat buruknya kondisi pengungsian. Data yang dipublikasikan belum merinci penyebab medis setiap kematian. Apakah berkaitan dengan penyakit penyerta, komplikasi cedera, usia lanjut, keterlambatan rujukan, atau faktor lain, masih membutuhkan data terpilah. Justru ketidakjelasan inilah yang semestinya menjadi pintu evaluasi lebih mendalam.
Skala pengungsian memang sangat besar dan dinamis. BNPB pada 2 September 2026 mencatat, berdasarkan data sehari sebelumnya, 181.354 jiwa mengungsi, 127 orang meninggal dan 1.668 orang terluka. Dua pekan kemudian jumlah warga yang masih mengungsi turun menjadi 46.461 jiwa. BNPB menilai penurunan tersebut sebagai sinyal positif penanganan darurat dan pemulihan.
Namun, berkurangnya jumlah pengungsi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Perlindungan kelompok rentan, kesinambungan pengobatan penyakit kronis, pelayanan kesehatan, sanitasi, nutrisi serta kecepatan rujukan medis juga menentukan kualitas penanganan. BNPB bersama Ombudsman RI pada 2 September bahkan memperkuat monitoring akses bantuan, layanan dasar, mekanisme pengaduan dan respons pemerintah terhadap kebutuhan warga terdampak.
Persoalan menjadi semakin kompleks karena kepulangan warga berhadapan dengan kerusakan tempat tinggal. ANTARA pada 15 September melaporkan 103.427 rumah masih dalam proses pendataan kembali. Validasi berdasarkan nama dan alamat diperlukan agar bantuan tepat sasaran dan tidak tumpang tindih. Artinya, keluar dari tenda belum tentu identik dengan pulih apabila rumah belum aman ditempati.
Ancaman alam juga belum sepenuhnya berhenti. BMKG pada 15 September mencatat 15.722 gempa susulan dalam 30 hari setelah gempa utama, berkekuatan M0,9 hingga M6,2. Sebanyak 190 kejadian dirasakan masyarakat. Aktivitasnya telah memasuki fase peluruhan, tetapi gempa kecil diperkirakan masih dapat berlangsung beberapa bulan. Situasi ini menunjukkan pemulihan harus berjalan bersama mitigasi.
Di sinilah angka 94 kematian memperoleh makna lebih penting daripada sekadar statistik. Pemerintah perlu mengetahui profil korban, penyakit penyerta, penyebab medis, waktu kematian, lokasi pengungsian hingga riwayat pelayanan dan rujukannya. Evaluasi kesehatan masyarakat semacam ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan menemukan faktor risiko yang mungkin dapat dicegah pada bencana berikutnya.
Gempa Flores akhirnya mengingatkan bahwa menyelamatkan manusia dari guncangan hanyalah tahap pertama penanggulangan bencana. Tahap berikutnya adalah memastikan mereka tetap hidup, sehat dan bermartabat selama pengungsian hingga kembali ke kehidupan normal. Negara diuji bukan hanya ketika sirene berbunyi dan bantuan berdatangan, tetapi juga ketika perhatian publik mulai surut sementara puluhan ribu penyintas masih berjuang memulihkan hidupnya.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY