Home Artikel Mencari Jenjang Karier di Tengah Ketidakpastian

Mencari Jenjang Karier di Tengah Ketidakpastian

35
0
SHARE
Mencari Jenjang Karier di Tengah Ketidakpastian

Keterangan Gambar : Dina Oktianasari datang membawa keputusan yang tidak sederhana. Perempuan 35 tahun itu memilih tidak memperpanjang kontrak kerja karena tak melihat jenjang karier yang jelas.

Perwirasatu.co.id, 24 September 2026

Di antara ribuan pencari kerja yang memadati Job Fair 2026 di Cengkareng, Dina Oktianasari datang membawa keputusan yang tidak sederhana. Perempuan 35 tahun itu memilih tidak memperpanjang kontrak kerja karena tak melihat jenjang karier yang jelas. Kini ia kembali mengetuk pintu pasar kerja, mencari bukan sekadar pekerjaan baru, melainkan kesempatan untuk tumbuh dan menata masa depan.

Pilihan Dina memperlihatkan sisi lain persoalan ketenagakerjaan. Memiliki pekerjaan ternyata belum selalu berarti memiliki kepastian masa depan. Di balik kontrak dan gaji bulanan terdapat kebutuhan akan peningkatan keterampilan, stabilitas, penghargaan terhadap pengalaman, dan kesempatan naik ke jenjang yang lebih baik. Ketika ruang itu tak tersedia, bertahan pun bisa menjadi pilihan yang sama sulitnya dengan pergi.

Job Fair Gelombang II Jakarta Barat menjadi salah satu ruang untuk mencari kemungkinan baru. Pemkot Jakarta Barat pada 22 September 2026 mencatat kegiatan di Gelanggang Remaja Kecamatan Cengkareng itu menghadirkan 48 perusahaan dengan 3.450 lowongan untuk 236 jabatan. Bursa kerja berlangsung luring pada 22–23 September, sementara layanan daring melalui KarirJakarta dibuka 11–24 September dan dilanjutkan walk-in interview di empat wilayah pada 24 September.

Angka ribuan lowongan itu membawa optimisme, tetapi tidak otomatis menghapus persoalan pengangguran. BPS DKI Jakarta pada 5 Mei 2026 mencatat angkatan kerja Jakarta mencapai 5,53 juta orang pada Februari 2026. Sebanyak 5,20 juta orang bekerja, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka masih 6,03 persen. Angka itu turun 0,15 poin persentase dibanding Februari 2025, tetapi tetap menunjukkan besarnya kelompok yang harus berebut kesempatan memasuki pasar kerja.

Di sinilah job fair menghadapi ukuran keberhasilan yang lebih substantif. Ramainya pengunjung dan banyaknya lowongan merupakan awal, bukan hasil akhir. Yang lebih menentukan adalah berapa pencari kerja benar-benar diterima, bagaimana kecocokan keterampilan mereka dengan kebutuhan perusahaan, dan apakah pekerjaan yang diperoleh mampu memberikan keberlanjutan.

Persoalannya bahkan lebih rumit bagi kelompok tertentu. Akurat Jakarta pada 23 September 2026 mengangkat pengalaman Reynaldo, 31 tahun, pencari kerja penyandang disabilitas yang menilai kesempatan khusus bagi penyandang disabilitas masih terbatas. Kesaksiannya mengingatkan bahwa akses terhadap pekerjaan bukan hanya persoalan jumlah lowongan, tetapi juga seberapa inklusif pintu masuk menuju dunia kerja.

Pasar kerja juga mempertemukan generasi dan kebutuhan berbeda. Ada lulusan baru yang mengejar pengalaman pertama, pekerja yang terkena efisiensi, mereka yang kembali bekerja setelah lama berhenti, hingga pekerja berpengalaman seperti Dina yang menginginkan perkembangan karier. Mereka berada dalam antrean yang sama, tetapi membawa persoalan dan harapan yang berbeda.

Karena itu, tantangan pemerintah tidak selesai dengan mempertemukan perusahaan dan pelamar. Bursa kerja akan lebih bermakna bila terhubung dengan pemetaan kebutuhan industri, pelatihan, sertifikasi, konseling karier serta evaluasi berapa pelamar akhirnya terserap. Bagi perusahaan, banyaknya pencari kerja juga menjadi pengingat bahwa mempertahankan tenaga berkualitas memerlukan lebih dari sekadar menawarkan pekerjaan. Ruang belajar dan jalur pengembangan karier ikut menentukan.

Di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan industri, pencari kerja pun dituntut terus beradaptasi. Ijazah tetap penting, tetapi kemampuan digital, komunikasi, pengalaman, sertifikasi dan kemauan belajar semakin menentukan. Kompetisi bukan hanya tentang siapa yang membutuhkan pekerjaan, tetapi siapa yang paling sesuai dengan pekerjaan yang tersedia.

Di tengah ribuan lowongan di Cengkareng, Dina belum tahu apakah satu di antaranya akan menjadi tempat kerjanya berikutnya. Namun keputusannya meninggalkan kontrak tanpa jenjang karier menyisakan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar berapa banyak lowongan tersedia: ketika seseorang akhirnya mendapatkan pekerjaan, adakah jalan baginya untuk terus tumbuh di dalamnya?

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home