Home Artikel Meneladani Keluarga Penghafal Al-Qur,an Inspiratif Indonesia

Meneladani Keluarga Penghafal Al-Qur,an Inspiratif Indonesia

8
0
SHARE
Meneladani Keluarga Penghafal Al-Qur,an Inspiratif Indonesia

Keterangan Gambar : Pagi di Desa Katoi, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, tidak hanya diawali oleh kesibukan menyiapkan anak-anak berangkat ke sekolah. Di rumah Kamaruddin dan Najrah Rasyid, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menjadi suara yang menghidupkan suasana sejak selepas Subuh.


Perwirasatu.co.id, 06 Agustus 2026

Pagi di Desa Katoi, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, tidak hanya diawali oleh kesibukan menyiapkan anak-anak berangkat ke sekolah. Di rumah Kamaruddin dan Najrah Rasyid, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menjadi suara yang menghidupkan suasana sejak selepas Subuh. Rumah sederhana itu telah menjelma menjadi ruang belajar, tempat enam belas anak tumbuh dalam dekapan kasih sayang, disiplin, dan kecintaan terhadap ilmu agama. Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, keluarga ini menghadirkan teladan bahwa pendidikan terbaik selalu berawal dari rumah.

Nama Kamaruddin dan Najrah Rasyid mulai dikenal masyarakat ketika kisah keluarga mereka menjadi perhatian publik. Bukan semata karena mereka dikaruniai enam belas anak kandung dari satu pernikahan, melainkan karena seluruh putra-putri mereka tumbuh sebagai penghafal Al-Qur'an. Sebagian telah menamatkan pendidikan tinggi, sebagian lainnya masih menempuh pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Prestasi tersebut bukanlah hasil yang datang seketika, tetapi buah dari proses panjang yang dijalani dengan kesabaran, ketekunan, dan komitmen yang tidak pernah surut.

Kamaruddin sehari-hari mengabdi sebagai guru agama di SD Negeri 1 Katoi sekaligus aparatur sipil negara. Bersama istrinya, Najrah Rasyid, ia membangun keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Pernikahan mereka yang berlangsung pada Januari 1996 menjadi awal perjalanan panjang membentuk sebuah keluarga yang meyakini bahwa keberhasilan anak tidak hanya diukur melalui capaian akademik, tetapi juga melalui kekuatan akhlak, kedisiplinan, dan kedekatan dengan Al-Qur'an.

Pilihan hidup tersebut bukan berarti tanpa tantangan. Membesarkan enam belas anak tentu menuntut tenaga, waktu, kesabaran, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Namun, pasangan ini memilih menghadapi setiap fase kehidupan dengan keyakinan bahwa anak adalah amanah sekaligus investasi peradaban. Karena itulah, sejak usia dini mereka membiasakan anak-anak mengenal Al-Qur'an, belajar secara teratur, menghormati guru, serta menjadikan rumah sebagai tempat pertama untuk menanamkan karakter.

Kecintaan terhadap Al-Qur'an kemudian berjalan beriringan dengan semangat menuntut ilmu. Anak-anak mereka diarahkan untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur formal maupun pendidikan pesantren. Prestasi akademik yang mereka raih membuka jalan memperoleh berbagai beasiswa sehingga biaya pendidikan tidak menjadi hambatan besar. Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan agama dan pendidikan umum bukanlah dua jalan yang saling bertentangan, melainkan dua pilar yang dapat saling menguatkan dalam membentuk generasi yang utuh.

Di balik keberhasilan itu terdapat keteladanan yang sederhana, tetapi sangat bermakna. Kamaruddin dan Najrah tidak hanya mengajarkan pentingnya menghafal Al-Qur'an, melainkan juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Al-Qur'an diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar bahwa kerja keras, kejujuran, kedisiplinan, rasa syukur, dan tanggung jawab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan. Nilai-nilai tersebut tumbuh secara alami karena disaksikan setiap hari di lingkungan keluarga.

Kisah keluarga dari Kolaka Utara ini pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar cerita tentang banyaknya jumlah anak atau banyaknya hafalan Al-Qur'an. Ia menghadirkan pesan bahwa kualitas sebuah keluarga tidak ditentukan oleh besarnya harta maupun kemewahan fasilitas, melainkan oleh keteguhan orang tua dalam membangun budaya belajar, keteladanan, dan kasih sayang. Dari rumah sederhana itulah lahir sebuah inspirasi yang mengingatkan bahwa keluarga tetap merupakan sekolah pertama dan paling menentukan bagi masa depan seorang anak.

Keberhasilan keluarga Kamaruddin dan Najrah Rasyid sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari pola pendidikan yang mereka bangun selama bertahun-tahun. Pendidikan dalam keluarga ini tidak bertumpu pada perintah semata, melainkan pada keteladanan yang hidup dalam keseharian. Anak-anak melihat langsung bagaimana kedua orang tuanya menjaga hubungan dengan Al-Qur'an, menghormati ilmu, serta menjalani kehidupan dengan kesederhanaan. Nilai-nilai itulah yang kemudian membentuk karakter mereka jauh sebelum prestasi akademik maupun hafalan Al-Qur'an diraih.

Dalam banyak keluarga, rumah sering kali hanya menjadi tempat beristirahat setelah beraktivitas. Namun, di keluarga ini, rumah menjalankan fungsi yang lebih luas sebagai ruang pendidikan. Setiap hari menjadi kesempatan untuk belajar, berdialog, memperbaiki bacaan Al-Qur'an, mengulang hafalan, dan membangun kebiasaan disiplin. Rutinitas yang dilakukan secara konsisten itu membentuk budaya belajar yang kuat. Para ahli pendidikan sejak lama menegaskan bahwa lingkungan keluarga merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan seorang anak, karena karakter lebih mudah tumbuh melalui kebiasaan daripada sekadar nasihat.

Kamaruddin memahami bahwa menjadi guru tidak berhenti ketika jam pelajaran di sekolah usai. Peran sebagai ayah justru menjadi ruang pengabdian yang lebih panjang. Bersama Najrah Rasyid, ia mendampingi perkembangan setiap anak sesuai usia dan kemampuannya. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan terbaik bukanlah pendidikan yang memaksakan hasil, melainkan yang mendampingi proses dengan penuh kesabaran. Setiap anak diberi kesempatan berkembang tanpa kehilangan arah yang telah ditetapkan keluarga.

Keberhasilan seluruh anak menjadi penghafal Al-Qur'an juga menunjukkan bahwa pendidikan agama dapat berjalan selaras dengan pendidikan formal. Anak-anak tetap mengikuti jenjang pendidikan di sekolah maupun pesantren, kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi. Bahkan beberapa di antaranya berhasil memperoleh beasiswa berkat prestasi akademik. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan menghafal Al-Qur'an bukanlah penghambat untuk menguasai ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, kedisiplinan dalam menghafal justru melatih konsentrasi, ketekunan, kemampuan mengatur waktu, dan semangat belajar yang berkesinambungan.

Aspek lain yang menarik adalah kemampuan keluarga ini membangun optimisme di tengah berbagai keterbatasan. Membesarkan enam belas anak tentu bukan perkara ringan. Kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari memerlukan pengelolaan yang baik. Namun, pasangan ini memilih memandang setiap tantangan sebagai bagian dari ikhtiar yang harus dijalani. Mereka tidak menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai alasan untuk menurunkan kualitas pendidikan anak-anaknya. Sebaliknya, prestasi dijadikan jalan untuk membuka kesempatan memperoleh beasiswa dan dukungan pendidikan.

Kisah tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa keluarga besar identik dengan rendahnya kualitas pengasuhan. Yang menentukan bukanlah jumlah anggota keluarga, melainkan kualitas kepemimpinan orang tua dalam membangun suasana rumah yang sehat, penuh kasih sayang, serta menghargai ilmu. Ketika orang tua mampu menjadi teladan, anak-anak akan belajar tentang tanggung jawab, kerja keras, kejujuran, dan kepedulian melalui pengalaman nyata yang mereka saksikan setiap hari.

Dalam perspektif pembangunan sumber daya manusia, keluarga seperti ini memberikan pelajaran penting bahwa investasi terbesar bangsa sesungguhnya dimulai dari rumah. Sekolah memiliki peran strategis dalam mengembangkan kemampuan akademik, tetapi keluarga merupakan tempat pertama yang membentuk karakter, integritas, dan etika. Ketika keduanya berjalan beriringan, lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Inilah pesan utama yang terpancar dari perjalanan panjang keluarga Kamaruddin dan Najrah Rasyid, sebuah kisah yang layak diapresiasi bukan karena keunikannya semata, melainkan karena nilai-nilai pendidikan yang diwariskannya kepada masyarakat luas.

Perjalanan keluarga Kamaruddin dan Najrah Rasyid menyampaikan pesan yang jauh melampaui kisah tentang enam belas anak yang menjadi penghafal Al-Qur'an. Di balik capaian tersebut tersimpan sebuah filosofi pendidikan yang sederhana, tetapi sangat mendalam. Pendidikan bukanlah proses yang berlangsung sesaat atau hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Pendidikan adalah perjalanan panjang yang dimulai dari rumah, dibangun melalui keteladanan, dipelihara dengan kasih sayang, dan diperkuat oleh konsistensi orang tua dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan.

Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi digital, serta berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, keluarga memiliki peran yang semakin strategis. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga dituntut hadir sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus sahabat bagi anak-anaknya. Kehadiran tersebut menjadi benteng pertama dalam membangun karakter yang tangguh, membentuk kebiasaan belajar yang sehat, serta menanamkan nilai-nilai moral yang akan menjadi bekal sepanjang hayat. Kisah keluarga dari Kolaka Utara ini menunjukkan bahwa rumah yang dipenuhi budaya membaca, berdiskusi, dan saling menghormati akan melahirkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Keberhasilan anak-anak Kamaruddin memperoleh prestasi akademik dan berbagai beasiswa juga memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan berkualitas tidak selalu bergantung pada kemewahan fasilitas. Semangat belajar, kedisiplinan, kerja keras, dan dukungan orang tua sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan. Kesempatan memperoleh beasiswa menjadi bukti bahwa prestasi dapat membuka jalan bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh mengembangkan kemampuan dirinya. Pesan ini sangat relevan bagi banyak keluarga Indonesia yang menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi, tetapi tetap memiliki harapan besar terhadap masa depan anak-anaknya.

Yang patut diapresiasi dari keluarga ini bukanlah semata-mata jumlah anak maupun banyaknya hafalan Al-Qur'an. Nilai yang jauh lebih penting adalah keberhasilan membangun budaya belajar yang berlangsung secara alami di lingkungan keluarga. Anak-anak dibiasakan mencintai ilmu, menghargai waktu, menghormati guru, serta memahami bahwa keberhasilan hanya dapat diraih melalui usaha yang sungguh-sungguh. Budaya seperti inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi lahirnya sumber daya manusia yang unggul, baik dalam bidang akademik, sosial, maupun spiritual.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa Al-Qur'an tidak berhenti sebagai hafalan yang tersimpan dalam ingatan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus tercermin dalam sikap hidup sehari-hari, mulai dari kejujuran, tanggung jawab, kepedulian kepada sesama, hingga semangat untuk terus belajar sepanjang hayat. Hafalan yang disertai pengamalan akan melahirkan pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Di sinilah letak esensi pendidikan Islam yang sesungguhnya, yaitu membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.

Pada saat yang sama, kisah keluarga ini tidak perlu dipahami sebagai ukuran bahwa setiap keluarga harus memiliki banyak anak agar berhasil. Setiap keluarga memiliki kondisi, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Yang layak diteladani adalah semangat, komitmen, dan konsistensi kedua orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak mereka. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan oleh keluarga kecil maupun besar, di perkotaan maupun pedesaan, selama terdapat kemauan untuk menjadikan rumah sebagai pusat pembelajaran dan pembentukan karakter.

Keluarga Kamaruddin dan Najrah Rasyid menghadirkan secercah optimisme di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa. Mereka membuktikan bahwa keteladanan orang tua, budaya membaca, kecintaan terhadap ilmu, serta kedekatan dengan nilai-nilai agama mampu melahirkan generasi yang berprestasi dan berkarakter. Dari sebuah rumah sederhana di Kolaka Utara, lahir pesan yang layak direnungkan oleh setiap keluarga Indonesia: membangun peradaban selalu dimulai dari membangun keluarga. Ketika rumah menjadi sekolah pertama yang menumbuhkan ilmu, akhlak, dan kasih sayang, di sanalah masa depan bangsa sedang dipersiapkan dengan cara yang paling mendasar, paling kokoh, dan paling bermakna.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home