Home Artikel Menjaga Kehormatan Di Tengah Zaman

Menjaga Kehormatan Di Tengah Zaman

10
0
SHARE
Menjaga Kehormatan Di Tengah Zaman

Keterangan Gambar : Kisah tentang seorang Muslimah berhijab yang menjawab pertanyaan Miss France tersebut mengandung pelajaran penting tentang cara memandang kehormatan, pakaian, kebebasan, dan nilai seorang manusia.

Perwirasatu.co.id, 22 September 2026

Kisah tentang seorang Muslimah berhijab yang menjawab pertanyaan Miss France tersebut mengandung pelajaran penting tentang cara memandang kehormatan, pakaian, kebebasan, dan nilai seorang manusia. Terlepas dari benar atau tidaknya dialog itu pernah terjadi, pesan yang dapat direnungkan ialah bahwa seorang Muslim diperintahkan menjaga kehormatan dirinya, menundukkan pandangan, serta menjadikan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan, bukan penampilan semata.

Kisah semacam ini sering dibagikan dengan kalimat bahwa seorang Muslimah berniqab memberikan jawaban telak kepada orang yang mempertanyakan pakaiannya. Namun, yang jauh lebih penting daripada memenangkan sebuah perdebatan adalah memahami prinsip yang diajarkan Islam. Islam tidak mengajarkan seorang Muslim untuk merendahkan orang lain karena pakaian mereka. Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjaga kehormatan dirinya dan menyampaikan kebenaran dengan hikmah.

Allah SWT berfirman dalam Surah An Nur ayat 30:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Kemudian Allah SWT berfirman kepada kaum perempuan dalam ayat berikutnya:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, sesama perempuan muslim, hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa menjaga kehormatan bukan hanya persoalan pakaian. Laki-laki diperintahkan menundukkan pandangan, perempuan juga diperintahkan menjaga pandangan dan kehormatan. Dengan demikian, kesucian dalam Islam tidak dibebankan kepada perempuan saja. Keduanya memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah.

Adapun mengenai niqab, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum menutup wajah. Sebagian ulama memandangnya wajib dalam keadaan tertentu, sementara sebagian lainnya memandang wajah dan telapak tangan bukan aurat yang wajib ditutup. Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah mencela Muslimah yang memilih berniqab, dan juga tidak mudah menuduh Muslimah yang tidak berniqab sebagai orang yang meninggalkan syariat.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْحَيَاءَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Sesungguhnya rasa malu tidaklah mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa rasa malu dalam Islam bukan kelemahan. Malu adalah akhlak yang menjaga seseorang dari perbuatan yang merusak kehormatan. Akan tetapi, rasa malu juga harus berjalan bersama ilmu, kelembutan, dan kebijaksanaan.

Karena itu, menghadapi apa yang disebut sebagai ghazwul fikri atau serangan pemikiran tidak cukup hanya dengan jawaban yang tajam. Benteng yang paling kuat adalah ilmu, iman, akhlak, dan kemampuan menjelaskan ajaran Islam dengan tenang. Jangan sampai ketika membela kehormatan Islam, seorang Muslim justru kehilangan akhlak Islam.

Allah SWT mengingatkan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

(QS. Al Hujurat: 13)

Inilah ukuran yang seharusnya menjadi pegangan. Pakaian adalah bagian dari ketaatan, tetapi kemuliaan manusia tidak berhenti pada pakaian. Ia harus terlihat dalam pandangan yang terjaga, ucapan yang santun, hati yang bersih, perilaku yang baik, serta ketundukan kepada Allah.

Maka, kisah tersebut dapat kita jadikan bahan renungan, bukan sekadar bahan untuk memenangkan perdebatan. Seorang Muslimah berhak menjaga kehormatannya dengan pakaian yang diyakininya sesuai dengan keyakinan agamanya. Pada saat yang sama, ia dipanggil untuk menunjukkan bahwa hijab dan kesopanan bukan sekadar kain yang menutup tubuh, melainkan bagian dari perjalanan seorang hamba untuk mendekat kepada Allah.

Di tengah zaman ketika tubuh manusia sering dijadikan komoditas, perhatian manusia mudah diarahkan kepada penampilan, dan harga diri kadang diukur dari banyaknya orang yang memandang, Islam mengembalikan manusia kepada pertanyaan yang lebih dalam: Untuk siapa kita menjaga diri?

Jawabannya adalah untuk Allah.

Sebab manusia boleh melihat pakaian kita, memuji penampilan kita, bahkan mengkritiknya. Tetapi Allah melihat hati, amal, dan ketakwaan kita. Karena itu, marilah menjaga aurat dengan ilmu, menjaga kehormatan dengan kesadaran, menjaga lisan dengan akhlak, dan menjaga hati dari kesombongan. Itulah cara menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan arah pulang kepada Allah.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home