Home Artikel Rezeki Di Tangan Allah

Rezeki Di Tangan Allah

10
0
SHARE
Rezeki Di Tangan Allah

Keterangan Gambar : Nasihat tentang rezeki tidak akan pernah basi selama manusia masih menghadapi kecemasan tentang masa depan

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Di tengah tekanan ekonomi, kebutuhan keluarga, dan tuntutan kehidupan yang terus meningkat, nasihat “rezeki berada di tangan Allah” kadang terdengar seperti kalimat lama. Namun, bagi seorang muslim, kalimat itu bukan sekadar penghiburan, melainkan keyakinan yang menuntun hati agar tetap tenang, bekerja sungguh-sungguh, bersyukur ketika lapang, dan bersabar ketika menghadapi keterbatasan hidup.

Nasihat tentang rezeki tidak akan pernah basi selama manusia masih menghadapi kecemasan tentang masa depan. Yang mungkin menjadi basi bukan ajarannya, melainkan cara manusia memahaminya. Jika “rezeki di tangan Allah” dimaknai sebagai alasan untuk malas, pasrah tanpa usaha, atau menolak tanggung jawab, maka pemahaman itu jelas keliru. Tawakal dalam Islam tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Tawakal berarti berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 6:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam Kitab yang nyata.”

Ayat tersebut memberikan ketenteraman yang sangat mendasar. Rezeki seluruh makhluk berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah. Akan tetapi, ayat ini tidak mengajarkan manusia untuk berhenti bergerak. Burung tetap terbang mencari makanan. Petani tetap mencangkul tanah. Pedagang tetap membuka usaha. Pekerja tetap menjalankan kewajibannya. Seorang kepala keluarga tetap berikhtiar memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Rasulullah ﷺ bahkan memberikan gambaran yang sangat indah tentang tawakal. Beliau bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikan gambaran hadis tersebut. Burung tidak tinggal diam di sarangnya sambil menunggu makanan jatuh dari langit. Ia pergi pada pagi hari. Ia bergerak, mencari, dan berusaha. Setelah itu Allah memberikan rezekinya. Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal yang sering kali terlupakan.

Allah juga berfirman dalam Surah An-Najm ayat 39:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan membutuhkan kesungguhan. Karena itu, seorang muslim tidak selayaknya menggunakan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Takdir adalah wilayah ketetapan Allah, sedangkan ikhtiar adalah kewajiban manusia. Kita tidak mengetahui apa yang Allah tetapkan untuk hari esok, tetapi kita mengetahui bahwa hari ini kita diperintahkan untuk berusaha dengan cara yang halal dan baik.

Rezeki juga tidak selalu berbentuk uang. Kesehatan, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, sahabat yang baik, kesempatan beribadah, ketenangan hati, dan kemampuan menghindari maksiat merupakan bagian dari karunia Allah. Ada orang yang hartanya banyak tetapi hidupnya penuh kegelisahan. Ada pula yang sederhana secara materi, tetapi hatinya kaya dengan syukur dan merasa cukup.

Karena itu, persoalan rezeki bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana mendapatkan yang halal, menggunakan yang diperoleh secara benar, serta tidak membiarkan harta menguasai hati. Banyaknya harta belum tentu menjadi keberkahan, sedangkan sedikitnya harta bukan berarti Allah sedang merendahkan seseorang.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Maka, “rezeki di tangan Allah” bukanlah nasihat basi. Ia adalah kalimat yang seharusnya terus hidup dalam kesadaran seorang muslim. Ketika rezeki lapang, ia mengajarkan syukur. Ketika rezeki sempit, ia mengajarkan sabar. Ketika usaha berhasil, ia mencegah kesombongan. Ketika usaha belum berhasil, ia menjaga manusia dari keputusasaan.

Tugas seorang hamba bukan memastikan hasil sesuai keinginannya. Tugasnya adalah memperbaiki niat, menempuh jalan yang halal, bekerja dengan sungguh-sungguh, berdoa, bertawakal, dan menerima ketetapan Allah dengan hati yang tetap terhubung kepada-Nya.

Dengan demikian, keyakinan bahwa rezeki berada di tangan Allah bukan alasan untuk berhenti berusaha. Justru keyakinan itulah yang membebaskan manusia dari ketakutan berlebihan terhadap masa depan. Kita bekerja karena Allah memerintahkan ikhtiar, bukan karena kita merasa mampu mengendalikan seluruh hasil. Kita berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan apa yang berada di luar kuasa kita kepada Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Mengatur, dan Maha Memberi Rezeki.

Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home