
Keterangan Gambar : Rumah idaman yang ia bangun dengan susah payah dari hasil kredit bank untuk putri semata wayangnya, Suci, kini rata dengan tanah setelah diguncang gempa Magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu
Perwirasatu.co.id , MANGGARAI TIMUR, NTT - Di balik puing-puing rumah yang hancur akibat gempa dahsyat Flores, ada kisah pilu seorang ibu tangguh. Ia adalah Ursula Satria Dehe, lulusan PPPK asal Kampung Cenop, Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.
Rumah idaman yang ia bangun dengan susah payah dari hasil kredit bank untuk putri semata wayangnya, Suci, kini rata dengan tanah setelah diguncang gempa Magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu.
Kisah itu ia tuturkan dengan mata berkaca-kaca.
Saat gempa pertama mengguncang, Ursula sedang bertugas sebagai pegawai di Kantor Camat Lamba Leda Utara, tepatnya di Kampung Maki, Desa Satar Kampas. Jaraknya sekitar 12 kilometer atau satu jam perjalanan dari rumahnya di Cenop.
Sementara itu, putrinya, Suci, siswi SMP kelas 1, berada seorang diri di rumah. Ia menjadi saksi mata bagaimana rumah impian mereka ambruk seketika, disusul gempa-gempa susulan yang masih terjadi hingga hari ini.
Kegigihan Ursula sebagai single parent dalam membangun rumah itu patut diacungi jempol. Namun kini, semua tinggal kenangan dan puing.
Yang lebih menyayat hati, meski rumah telah hancur, cicilan kredit di bank tetap harus berjalan. Bencana alam tidak menggugurkan kewajiban angsuran sesuai perjanjian kredit.
“Apa mau dibilang. Rumah sudah hancur tapi beban utang di bank terus berjalan. Ini kejadian yang tidak pernah kami pikirkan akan terjadi,” ucap Ursula lirih.
Kini, Ursula dan Suci hanya bisa pasrah dan ikhlas. Harapannya satu, bantuan rumah kategori rusak berat dari pemerintah segera direalisasikan, meski ia sadar nilainya tak akan sebanding dengan biaya yang telah ia keluarkan.
Ternyata, nasib serupa dialami banyak rekan sesama lulusan PPPK.
“Kami berharap pemerintah bisa mendengar keluhan kami. Semoga ada kebijakan untuk meringankan beban kami. Kami hanya pasrah dan berharap nasib kami ke depan diperhatikan. Syukur kalau status kami ditingkatkan menjadi PNS,” harapnya.
“Doa kami menyertai semua pemimpin bangsa, agar bisa memperhatikan nasib kami pegawai PPPK yang terdampak gempa dahsyat ini,” tutup Ursula.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)


















LEAVE A REPLY