Home Artikel BENAR, SALAH, DAN BERSERAH

BENAR, SALAH, DAN BERSERAH

83
0
SHARE
BENAR, SALAH, DAN BERSERAH

Keterangan Gambar : mengevaluasi diri, bertobat, memperbaiki keadaan, dan mengambil pelajaran darinya.

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Menjadi dewasa tidak berarti harus selalu benar. Justru salah satu tanda kedewasaan adalah kesediaan mengakui bahwa kita dapat keliru. Pengetahuan dan kemampuan manusia terbatas. Karena itu, kesalahan tidak harus menjadi akhir perjalanan. Ia dapat menjadi guru apabila kita mau mengevaluasi diri, bertobat, memperbaiki keadaan, dan mengambil pelajaran darinya.

Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Apa yang kita anggap baik belum tentu terbaik, dan sesuatu yang mengecewakan belum tentu buruk. Ada kalanya Allah menutup sebuah pintu karena di baliknya terdapat sesuatu yang tidak baik bagi kita. Ada pula sesuatu yang ditunda karena waktunya belum tepat.

Maka ketika keputusan ternyata keliru, jangan tenggelam dalam penyesalan. Jika bersalah kepada Allah, bertaubatlah. Jika bersalah kepada manusia, mintalah maaf. Jika karena kurang pengetahuan, belajarlah. Kesalahan seharusnya mengubah kita menjadi lebih baik, bukan membuat kita kehilangan harapan.

Dalam menjalani kehidupan, kerja keras adalah bagian dari ikhtiar. Tawakal bukan alasan untuk berhenti berusaha. Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Kita bekerja, belajar, menjaga kesehatan, memperbaiki hubungan, dan mencari rezeki melalui jalan yang halal. Namun setelah usaha dilakukan, kita harus menyadari bahwa hasil tidak sepenuhnya berada dalam genggaman kita. Di sinilah doa dan tawakal menemukan maknanya.

Doa adalah pengakuan bahwa kemampuan kita terbatas, sedangkan kekuasaan Allah tidak terbatas. Tawakal adalah ketenangan hati setelah melakukan yang terbaik. Karena itu, usaha, doa, dan tawakal bukanlah tiga hal yang bertentangan, melainkan satu rangkaian kehidupan seorang mukmin.

Begitu pula dengan rezeki. Kita sering menyusun rencana berdasarkan apa yang terlihat, sedangkan Allah mengetahui apa yang tidak kita lihat. Kita mengharapkan rezeki melalui satu pintu, sementara Allah mungkin telah menyiapkan pintu yang lain.

Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُۥ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Karena itu, jangan menilai seluruh masa depan hanya dari keadaan hari ini. Kegagalan hari ini bukan berarti hidup telah gagal. Pintu yang tertutup bukan berarti semua jalan telah berakhir.

Jika benar, bersyukurlah. Jika salah, perbaikilah. Jika berhasil, jangan sombong. Jika gagal, jangan putus asa. Jika rezeki belum datang, teruslah berusaha dan berdoa. Percayalah bahwa Allah mengetahui jalan yang belum mampu kita lihat.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk membuktikan bahwa kita selalu benar. Hidup adalah perjalanan untuk semakin mengenal Allah dan terus memperbaiki diri.

Kerja keras adalah bentuk tanggung jawab. Doa adalah pengakuan akan kelemahan. Tawakal adalah ketenangan setelah menyerahkan hasil kepada Allah.

Dengan ikhtiar, kita bergerak.

Dengan doa, kita memohon pertolongan.

Dengan tawakal, kita berserah.

Semoga Allah menjadikan kita rendah hati ketika benar, lapang dada ketika salah, kuat ketika diuji, tekun ketika berusaha, tidak putus asa ketika gagal, dan pandai bersyukur ketika menerima nikmat.

Sebab boleh jadi jalan yang kita anggap terlambat justru merupakan jalan yang paling tepat. Dan boleh jadi rezeki yang belum datang melalui jalan yang kita rencanakan, sedang Allah arahkan melalui jalan pilihan-Nya.

Sumber

(Dwi Taufan Hidayat)

Iklan Detail Video

Iklan_home