Home Wisata Bugis, QRIS, Dan Godaan Belanja

Bugis, QRIS, Dan Godaan Belanja

11
0
SHARE
Bugis, QRIS, Dan Godaan Belanja

Keterangan Gambar : Singapura sering dibayangkan sebagai destinasi mahal. Namun, di kawasan Bugis, kesan itu menemukan pengecualian kecil. Rak-rak ABC Bargain Centre di 63 Queen Street menawarkan beragam produk konsumsi dengan orientasi harga kompetitif. Bagi wisatawan Indonesia

Perwirasatu.co.id , Jakarta -Singapura sering dibayangkan sebagai destinasi mahal. Namun, di kawasan Bugis, kesan itu menemukan pengecualian kecil. Rak-rak ABC Bargain Centre di 63 Queen Street menawarkan beragam produk konsumsi dengan orientasi harga kompetitif. Bagi wisatawan Indonesia, tempat seperti ini menarik bukan semata karena harga, tetapi karena memungkinkan anggaran oleh-oleh dibagi ke dalam pembelian kecil yang lebih mudah dikendalikan.

Di sinilah cerita belanja murah menjadi menarik. Harga yang terlihat rendah di rak belum otomatis berarti pengeluaran perjalanan menjadi rendah. Ada ongkos transportasi, makanan, akomodasi, kurs mata uang, serta jumlah barang yang akhirnya dibeli. Barang murah bahkan dapat membuat seseorang membeli lebih banyak daripada rencana awal.

ABC Bargain Centre merupakan bagian dari jaringan ritel yang didirikan Radha Exports pada 1995. Perusahaan itu menyebut jaringan ABC dan Valu$ menjual kebutuhan sehari-hari dengan harga kompetitif. Gerai Bugis tercatat berada di 63 Queen Street, kawasan Bugis Village.

Perubahan lain terjadi di meja kasir. Wisatawan Indonesia kini tidak selalu harus mengandalkan uang tunai dolar Singapura. Sejak November 2023, Indonesia dan Singapura telah terhubung melalui QRIS Antarnegara. Pengguna dari Indonesia dapat menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung layanan tersebut untuk memindai NETS QR pada merchant yang berpartisipasi.

Kemudahan itu bukan sekadar perubahan dari uang kertas menjadi telepon genggam. Di belakang satu pemindaian terdapat konektivitas sistem pembayaran dua negara. Transaksi yang sebelumnya membutuhkan persiapan uang tunai kini dapat dilakukan melalui aplikasi, sementara nilai transaksi dikonversikan melalui mekanisme penyedia jasa pembayaran.

Data Bank Indonesia menunjukkan konektivitas tersebut telah digunakan secara nyata. Hingga Februari 2026, transaksi QRIS Indonesia–Singapura mencapai 554.510 transaksi dengan nilai Rp179,28 miliar. Angka itu memperlihatkan bahwa pembayaran lintas negara telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dan perjalanan, bukan lagi sekadar proyek teknologi.

Namun, kemudahan membayar tidak sama dengan otomatis hemat. Wisatawan tetap perlu melihat nilai rupiah yang terdebit, memastikan nominal transaksi, dan memahami mekanisme kurs yang digunakan aplikasi pembayaran. Praktis bukan berarti seseorang harus memperbesar belanja.

Ada pula persoalan keamanan. Kode QR harus dipastikan berasal dari merchant yang benar. Nama penerima dan nominal perlu diperiksa sebelum konfirmasi. PIN dan informasi rahasia tidak boleh diberikan kepada orang lain hanya karena transaksi dilakukan secara digital.

Konteksnya kini semakin luas. Pada 14 Agustus 2026, Bank Indonesia menerbitkan aturan mengenai penyelesaian transaksi bilateral Indonesia–Singapura menggunakan rupiah dan dolar Singapura melalui bank. Pada 31 Agustus 2026, BI dan Monetary Authority of Singapore mengumumkan operasionalisasi kerangka Local Currency Transaction atau LCT.

Kerangka LCT tersebut mencakup transaksi bilateral yang lebih luas, termasuk perdagangan, investasi langsung, dan pembayaran lintas negara. Ia berbeda dari QRIS Antarnegara yang berfungsi sebagai sarana pembayaran ritel berbasis QR. Keduanya memang berada dalam lanskap konektivitas ekonomi dan keuangan Indonesia–Singapura yang semakin terintegrasi, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.

Dari lorong toko murah di Bugis hingga sistem pembayaran lintas negara, perubahan itu akhirnya kembali kepada satu hal: perilaku konsumen. Teknologi membuat pembayaran semakin mudah, sementara ritel menyediakan semakin banyak pilihan dengan harga kompetitif.

Justru karena transaksi menjadi mudah, kemampuan mengendalikan keputusan menjadi semakin penting. Persoalannya bukan apakah wisatawan boleh membeli lebih banyak, melainkan apakah setiap dolar yang dikeluarkan memang memiliki alasan.

Bugis memperlihatkan paradoks sederhana. Barang dapat terasa murah, pembayaran dapat terasa ringan, tetapi total pengeluaran tetap harus dihitung. Dalam perjalanan, penghematan bukan sekadar menemukan harga rendah. Penghematan adalah kemampuan mengetahui kapan harga murah benar-benar bernilai dan kapan kemudahan membayar justru membuat kita membeli sesuatu yang sebelumnya tidak direncanakan.

Sumber

(Dwi Taufan Hidayat)

Iklan Detail Video

Iklan_home