
Keterangan Gambar : Pemerintah Kota Surabaya bersama tim ahli geologi mengidentifikasi dua jalur patahan dari sistem Sesar Kendeng, yakni Patahan Surabaya dan Patahan Waru.
Perwirasatu.co.id , Surabaya - Surabaya terus tumbuh sebagai kota metropolitan dengan gedung, jalan, permukiman, kawasan industri dan infrastruktur yang semakin padat. Namun di bawah perkembangan itu terdapat dinamika geologi yang perlu diperhitungkan. Pemerintah Kota Surabaya bersama tim ahli geologi mengidentifikasi dua jalur patahan dari sistem Sesar Kendeng, yakni Patahan Surabaya dan Patahan Waru.
Keberadaan patahan bukan berarti gempa besar akan segera terjadi. BPBD Surabaya sendiri mengingatkan bahwa keberadaan sesar tidak dapat dibaca sebagai tanda gempa akan terjadi sekarang atau dalam waktu dekat. Karena itu, persoalannya bukan meramal kapan bumi bergerak, melainkan seberapa baik kota memahami risikonya dan mempersiapkan masyarakat.
Pada September 2026, Pemkot Surabaya menyiapkan pemasangan empat hingga lima unit seismograf Raspberry Shake RS6D. Jumlah tersebut merupakan tahap awal dari kebutuhan ideal sekitar 14 stasiun untuk mencakup wilayah kota. Perangkat direncanakan ditempatkan di ruang publik atau perkantoran dengan jaringan internet stabil dan datanya akan diarahkan untuk mendukung pemantauan serta respons kebencanaan melalui Command Center 112.
Angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sistem pemantauan Surabaya masih sedang dibangun. Seismograf dapat merekam getaran dan aktivitas seismik, tetapi keberadaannya bukan alat untuk memastikan kapan gempa akan terjadi. Data harus dibaca oleh tenaga ahli, dikaitkan dengan informasi kebencanaan lain, kemudian diterjemahkan menjadi keputusan yang dapat dipahami masyarakat.
Hasil survei yang disampaikan tim ahli kepada Pemkot juga mencatat pergerakan sekitar empat sentimeter per tahun pada Patahan Surabaya dan sekitar tiga sentimeter pada Patahan Waru. Tim ahli mengaitkannya dengan kemunculan gempa-gempa mikro bermagnitudo sekitar 1 hingga 3. Angka tersebut merupakan hasil survei yang disampaikan kepada pemerintah dan tidak boleh diperlakukan sebagai hitungan mundur menuju gempa besar.
Di sinilah kehati-hatian informasi menjadi penting. Bahkan Amien Widodo sebelumnya mengingatkan bahwa penetapan sebuah patahan sebagai aktif membutuhkan bukti dan kajian ilmiah lebih lanjut. Karena itu, istilah dan angka mengenai aktivitas sesar perlu selalu disertai konteks sumber serta batasan kajiannya.
Surabaya sebenarnya telah memiliki modal penting berupa kajian mikrozonasi BMKG. Kajian tersebut memetakan karakteristik tanah, periode dominan, kedalaman batuan dasar dan kerentanan seismik. Informasi itu dapat digunakan untuk mendukung tata ruang, perencanaan bangunan tahan gempa serta kebijakan penanganan bencana.
Artinya, persoalan sesar tidak berhenti pada pemasangan sensor. Data geologi harus masuk ke dalam keputusan mengenai pembangunan. Sekolah, rumah sakit, gedung bertingkat, pusat perdagangan, jaringan transportasi dan fasilitas vital memerlukan perhatian berdasarkan tingkat risiko dan fungsi masing-masing.
Pemkot juga menjalankan edukasi kebencanaan di sekolah, rumah sakit, gedung bertingkat, pesantren dan lingkungan masyarakat. Pengetahuan mengenai perlindungan diri, titik kumpul dan prosedur evakuasi menjadi bagian penting karena teknologi tidak akan banyak berarti apabila masyarakat tidak tahu bagaimana bertindak ketika guncangan terjadi.
Surabaya tidak mungkin menghentikan gerak bumi. Yang dapat dilakukan adalah memperbesar kemampuan untuk membacanya. Seismograf, mikrozonasi, tata ruang, bangunan yang aman, komunikasi publik dan kesiapsiagaan masyarakat harus menjadi satu rantai mitigasi.
Keberhasilan mitigasi tidak hanya diukur dari berapa banyak sensor terpasang. Ukurannya adalah seberapa baik data berubah menjadi keputusan, seberapa konsisten informasi disampaikan, dan seberapa siap warga bertindak ketika bumi benar-benar bergerak.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY