Home Artikel Dari Lima Ayam Menjadi Cahaya Umat

Dari Lima Ayam Menjadi Cahaya Umat

43
0
SHARE
Dari Lima Ayam Menjadi Cahaya Umat

Keterangan Gambar : Lima ekor ayam kampung bukan angka yang lazim dikaitkan dengan sebuah masjid. Namun bagi Suciati Saliman, lima ekor ayam justru menjadi titik awal perjalanan panjang yang berlangsung puluhan tahun

Perwirasatu.co.id, 24 Agustus 2026.

Lima ekor ayam kampung bukan angka yang lazim dikaitkan dengan sebuah masjid. Namun bagi Suciati Saliman, lima ekor ayam justru menjadi titik awal perjalanan panjang yang berlangsung puluhan tahun. Dari Pasar Terban, Yogyakarta, ia membangun usaha, menabung, berbagi, dan akhirnya mewujudkan impian masa muda menjadi rumah ibadah yang diharapkan terus memberi manfaat bagi masyarakat, hingga melampaui dirinya sendiri dan umat.

Tidak ada yang istimewa dari lima ekor ayam jika hanya dilihat sebagai barang dagangan. Nilainya kecil, jumlahnya terbatas, dan mudah habis dalam satu hari. Tetapi dalam perjalanan hidup Suciati, lima ekor ayam menjadi titik awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dari sanalah ia belajar bahwa sebuah kehidupan tidak selalu dimulai dengan modal yang besar. Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk terus berjalan.

Pada 1966, ketika masih duduk di bangku SMP, Suciati mulai berjualan ayam kampung di Pasar Terban, Yogyakarta. Modalnya hanya Rp175 untuk lima ekor ayam. Dengan sepeda, ia membawa dagangannya ke pasar sebelum kemudian menjalani kewajiban sebagai pelajar. Jika ayam belum habis, ia menitipkannya kepada orang lain. Tidak ada kemewahan dalam permulaan itu. Yang ada hanya keberanian seorang remaja mencoba membantu kehidupan dengan kemampuan yang dimilikinya.

Dari titik itu, Suciati tidak serta-merta menjadi pengusaha besar. Ia melewati proses panjang, termasuk membuka pemotongan ayam secara manual di rumah pada 1989. Usaha tersebut kemudian berkembang menjadi Rumah Potong Ayam Saliman. Perkembangan itu menunjukkan satu hal yang sering terlupakan ketika orang melihat keberhasilan seseorang: hasil besar biasanya merupakan akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam waktu lama.

Ketekunan dalam kisah Suciati bukan sekadar bertahan menghadapi kesulitan. Ada kemampuan membaca peluang, menjaga usaha tetap hidup, mengembangkan kapasitas, dan berani mengambil langkah berikutnya. Pada 2009, usahanya berkembang ke Jombang, Jawa Timur. Beberapa tahun kemudian, pada 2014, ia mendirikan PT Sera Food Indonesia. Lima ekor ayam yang dahulu menjadi modal awal akhirnya berkembang menjadi sebuah usaha dengan cakupan yang jauh lebih besar.

Di sinilah kisah Suciati menjadi lebih menarik daripada sekadar cerita motivasi tentang orang yang bekerja keras. Ia memperlihatkan bagaimana pendapatan dapat diubah menjadi modal, modal dikembangkan menjadi usaha, dan usaha kemudian menjadi sumber manfaat bagi orang lain. Kerja keras saja tidak otomatis melahirkan keberhasilan. Kerja keras harus bertemu dengan disiplin, pengelolaan, keberanian mengambil peluang, dan kesabaran menunggu hasil.

Namun ada sesuatu yang lebih penting daripada perkembangan bisnis itu sendiri. Suciati tidak menempatkan keberhasilan ekonomi sebagai tujuan terakhir. Ia mempunyai gagasan bahwa hidup seharusnya memberi cahaya kepada lingkungan sekitar. Prinsip “urip iku urup” menjadi salah satu cara pandangnya. Hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil dimiliki, tetapi tentang seberapa banyak manfaat yang dapat ditinggalkan.

Prinsip itu kemudian terlihat dalam berbagai kegiatan sosial yang dijalankannya. Ia dikenal menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi, memberi perhatian kepada anak yatim, mengadakan kegiatan sosial dan keagamaan, serta memperhatikan kesejahteraan orang-orang yang bekerja bersamanya. Di sini, keberhasilan usaha menemukan dimensi yang berbeda. Bisnis bukan hanya mesin untuk menghasilkan keuntungan, tetapi juga dapat menjadi sarana memperluas manfaat.

Impian membangun masjid sebenarnya telah tumbuh sejak Suciati masih SMP. Namun perjalanan umrah pada 1995 membuat tekad tersebut semakin kuat. Ketika melihat Masjid Nabawi di Madinah, keinginannya untuk memiliki masjid yang dapat digunakan dan memberi manfaat bagi masyarakat semakin menemukan bentuk. Sejak saat itu, ia mulai mengumpulkan uang dengan tujuan yang lebih jelas.

Jarak antara impian dan kenyataan ternyata sangat panjang. Menabung untuk membangun masjid bukan pekerjaan sehari atau dua tahun. Ada kebutuhan usaha yang harus dipenuhi, keluarga yang harus diperhatikan, serta perjalanan bisnis yang terus berkembang. Di sinilah kualitas sebuah impian diuji. Banyak orang mampu mempunyai cita-cita, tetapi tidak semuanya mampu merawat cita-cita itu ketika waktu berjalan dan keadaan berubah.

Suciati memilih untuk terus menyimpannya.

Ia tidak memaksa impian itu hadir sebelum waktunya. Ia bekerja, mengembangkan usaha, mengumpulkan kemampuan, dan menunggu saat yang dianggap tepat. Sikap seperti itu mengandung pelajaran penting: kesabaran bukan berarti pasif. Kesabaran adalah kemampuan menjaga tujuan sambil terus melakukan sesuatu yang memungkinkan tujuan tersebut menjadi nyata.

Pembangunan Masjid Suciati Saliman akhirnya dimulai pada 2 Agustus 2015. Prosesnya tidak berlangsung tanpa tantangan. Persoalan lahan, pembangunan, dan penerimaan lingkungan menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Namun setelah proses sekitar tiga tahun, masjid tersebut akhirnya diresmikan pada 13 Mei 2018 di Jalan Gito Gati, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta.

Masjid itu dibangun di atas lahan sekitar 1.600 meter persegi, dengan bangunan tiga lantai dan satu basement. Desainnya memadukan nuansa Timur Tengah dengan unsur arsitektur Jawa. Kapasitasnya sekitar 1.000 jamaah. Fasilitas seperti lift juga disediakan untuk membantu lansia, penyandang disabilitas, dan jamaah yang membutuhkan akses lebih mudah.

Tetapi angka-angka itu bukan bagian terpenting dari kisah ini.

Yang lebih penting adalah perubahan fungsi sebuah impian pribadi menjadi ruang publik. Suciati tidak membangun masjid hanya sebagai penanda keberhasilan dirinya. Sejak awal ia menginginkan tempat tersebut dapat digunakan masyarakat. Karena itu, bangunan tersebut dirancang bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga untuk berbagai kegiatan umat.

Di sinilah sebuah bangunan mulai mempunyai makna sosial. Masjid tidak lagi hanya dapat dilihat sebagai hasil akhir dari kekayaan seseorang. Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang bagaimana kekayaan itu diproduksi, dikelola, kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk manfaat.

Perspektif tersebut membuat kisah Suciati terasa lebih relevan bagi banyak orang. Tidak semua orang memiliki kemampuan membangun masjid. Tidak semua orang memiliki usaha yang berkembang menjadi besar. Tetapi hampir setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai sesuatu dari skala yang tersedia baginya.

Seseorang yang memiliki usaha kecil dapat belajar mengelolanya dengan disiplin. Seseorang yang memperoleh penghasilan sederhana dapat belajar menyisihkan sebagian untuk tujuan jangka panjang. Seseorang yang belum mampu membuat karya besar dapat memulai dengan membantu orang terdekat. Ukuran manfaat tidak selalu ditentukan oleh besarnya modal awal, melainkan oleh kesungguhan dalam mengelola apa yang dimiliki.

Karena itu, kisah lima ekor ayam tidak seharusnya dibaca secara romantis seolah-olah keberhasilan hanya membutuhkan kerja keras. Ada banyak faktor lain di belakangnya: kesempatan, keluarga, jaringan, kemampuan mengelola usaha, keberanian mengambil risiko, lingkungan, dan tentu saja waktu. Mengatakan bahwa semua orang pasti berhasil jika bekerja keras akan terlalu menyederhanakan kenyataan.

Pelajaran yang lebih masuk akal adalah bahwa seseorang perlu mengoptimalkan kesempatan yang dimiliki. Modal kecil tidak harus menjadi alasan untuk berhenti. Keterbatasan hari ini tidak harus menjadi ukuran kemampuan seseorang pada masa depan. Yang penting adalah bagaimana seseorang mengubah keterbatasan menjadi langkah awal, lalu menjadikan langkah itu sebagai bagian dari perjalanan yang lebih panjang.

Suciati juga memperlihatkan bahwa tujuan ekonomi dan tujuan sosial tidak harus dipertentangkan. Usaha dapat menghasilkan keuntungan, tetapi keuntungan dapat diarahkan untuk membuka lapangan pekerjaan, membantu sesama, membangun fasilitas publik, dan mendukung kegiatan keagamaan. Dalam kerangka seperti itu, keberhasilan ekonomi memperoleh makna yang lebih luas.

Ada dimensi lain yang membuat kisah ini semakin kuat. Suciati telah meninggal dunia pada 15 Maret 2022 dalam usia 69 tahun. Kepergiannya mengingatkan bahwa pada akhirnya seseorang akan meninggalkan apa yang telah dibangunnya. Uang, perusahaan, rumah, dan berbagai pencapaian pribadi pada suatu ketika harus ditinggalkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang masih dapat memberi manfaat ketika pemiliknya sudah tidak ada.

Di titik itu, Masjid Suciati Saliman memiliki makna yang berbeda. Ia bukan lagi hanya cerita tentang seorang perempuan yang berhasil membangun masjid. Ia menjadi pengingat bahwa karya yang baik seharusnya mempunyai kehidupan yang lebih panjang daripada pembuatnya.

Suciati telah pergi, tetapi gagasan tentang manfaat tidak harus ikut pergi. Masjid tetap dapat menjadi tempat orang bersujud, belajar, bertemu, berbagi, dan membangun hubungan sosial. Di situlah keberhasilan memperoleh ukuran yang lebih dalam. Bukan sekadar seberapa tinggi bangunan yang berdiri, melainkan seberapa lama manfaatnya dapat dirasakan.

Mungkin itulah makna paling penting dari perjalanan Suciati. Lima ekor ayam tidak secara ajaib berubah menjadi sebuah masjid. Di antara keduanya terdapat puluhan tahun kerja, keputusan, kegagalan, keberanian, penghematan, pengembangan usaha, kepedulian sosial, dan kesabaran menjaga sebuah cita-cita.

Tidak ada jalan pintas dalam cerita itu.

Ada proses.

Dan proses itulah yang sering tidak terlihat ketika orang hanya melihat hasil akhir.

Bagi generasi yang sedang membangun kehidupan, kisah tersebut memberikan pesan yang sederhana tetapi kuat. Jangan meremehkan langkah kecil. Jangan merasa rendah karena memulai dari keterbatasan. Jangan pula mengukur keberhasilan terlalu cepat. Sebab sesuatu yang tampak kecil hari ini dapat menjadi fondasi bagi sesuatu yang jauh lebih besar jika dikerjakan dengan disiplin dan arah yang jelas.

Pada akhirnya, lima ekor ayam bukanlah cerita tentang ayam. Ia adalah cerita tentang bagaimana seseorang memperlakukan kesempatan kecil yang ada di tangannya.

Dari kesempatan itu lahir usaha.

Dari usaha lahir keberanian.

Dari keberanian lahir ketekunan.

Dari ketekunan tumbuh kemampuan berbagi.

Dan dari perjalanan panjang itu berdirilah sebuah rumah ibadah.

Sebuah karya yang mengingatkan bahwa hidup tidak selalu diukur dari apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga dari apa yang mampu kita teruskan kepada orang lain. Sebab ketika seseorang mampu mengubah hasil kerja menjadi manfaat, ia tidak sekadar membangun sesuatu untuk zamannya sendiri.

Ia sedang menyalakan cahaya yang mungkin tetap menyala jauh setelah dirinya pergi.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home