
Keterangan Gambar : Di tengah situasi pascagempa yang belum sepenuhnya pulih, pintu Maci Mart Reo kembali dibuka. Bukan untuk mengejar transaksi seperti hari biasa, melainkan untuk melayani warga yang membutuhkan. Nurdin, pemilik toko di Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, meminta karyawannya membantu menyediakan kebutuhan darurat, terutama susu dan popok bayi, bagi warga terdampak bencana.
Perwirasatu.co.id, 24 Agustus 2026
Di tengah situasi pascagempa yang belum sepenuhnya pulih, pintu Maci Mart Reo kembali dibuka. Bukan untuk mengejar transaksi seperti hari biasa, melainkan untuk melayani warga yang membutuhkan. Nurdin, pemilik toko di Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, meminta karyawannya membantu menyediakan kebutuhan darurat, terutama susu dan popok bayi, bagi warga terdampak bencana.
Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Gempa terjadi pukul 04.58 WIB dan sempat memicu peringatan dini tsunami yang kemudian diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB. Aktivitas gempa susulan terus berlangsung setelah gempa utama tersebut.
Pada 18 Agustus pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 2.119 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,3 hingga 6,2. Sehari kemudian, hingga 19 Agustus pukul 05.00 WIB, jumlah itu bertambah menjadi 2.768 kejadian. Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Flores masih berada dalam situasi yang belum sepenuhnya stabil ketika cerita tentang Maci Mart Reo mulai mendapat perhatian luas.
Di Reo, Kabupaten Manggarai, guncangan itu juga dirasakan oleh masyarakat, termasuk mereka yang bekerja di Maci Mart Reo. Kondisi toko milik Nurdin disebut masih cukup baik, meski sejumlah barang di dalamnya berantakan akibat guncangan. Dalam keadaan seperti itu, keputusan untuk membuka kembali toko bukan keputusan yang sepenuhnya mudah.
Nurdin mengatakan para karyawannya juga terdampak gempa dan sempat keberatan untuk kembali bekerja karena harus mengurus keluarga masing-masing. Namun, ia meminta mereka membuka toko dengan tujuan yang berbeda dari kegiatan perdagangan biasa.
“Mereka juga kena musibah,” kata Nurdin dalam video yang kemudian diberitakan sejumlah media. Ia menjelaskan bahwa toko dibuka bukan untuk berjualan seperti biasa, tetapi untuk menyiapkan kebutuhan bagi orang-orang yang memerlukan bantuan, terutama kebutuhan bayi, susu, dan pampers.
Di titik itu, sebuah toko kecil mengambil fungsi yang berbeda. Barang yang biasanya menjadi komoditas dagangan berubah menjadi bagian dari kebutuhan darurat. Susu dan popok mungkin terlihat sebagai barang biasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi bagi keluarga yang memiliki bayi di tengah situasi bencana, keduanya merupakan kebutuhan yang tidak mudah ditunda.
Kisah tersebut pertama kali mendapat perhatian lebih luas melalui video yang diunggah akun Threads @kang_iman. Sejumlah media kemudian memberitakannya pada 18 Agustus 2026. Antaran.id, misalnya, menerbitkan laporan mengenai Nurdin dan Maci Mart Reo pada Selasa malam, 18 Agustus 2026. Media lain seperti Detik60 juga memuat kisah serupa pada hari yang sama dan mencantumkan unggahan @kang_iman sebagai sumber.
Yang menarik bukan sekadar bahwa sebuah toko memberikan barang kepada warga. Yang lebih penting adalah cara Nurdin membaca situasi. Ia melihat bahwa pada saat bencana, kebutuhan masyarakat berubah. Ketika aktivitas ekonomi terganggu, sebagian barang yang tersedia di sebuah toko dapat memiliki fungsi sosial yang jauh lebih mendesak daripada sekadar menghasilkan transaksi.
Nurdin secara terbuka mengatakan bahwa pembukaan toko itu bukan untuk mencari keuntungan. Dalam video tersebut ia bahkan menyebut penjualan rokok dihentikan agar uang dapat disalurkan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
“Bukan saya mau cari untung, tidak, tapi untuk melayani yang memang membutuhkan,” ujar Nurdin sebagaimana dikutip Antaran.id. Ia juga menjelaskan bahwa rokok tidak dijual dalam situasi tersebut karena dana hendak diarahkan untuk bantuan.
Pernyataan itu penting karena memperlihatkan adanya perubahan prioritas. Dalam kondisi normal, toko bekerja melalui logika jual beli. Barang masuk, pelanggan datang, transaksi berlangsung, dan keuntungan menjadi salah satu ukuran keberlanjutan usaha. Tetapi ketika bencana terjadi, Nurdin memilih untuk sementara mengubah orientasi penggunaan tokonya.
Namun, tindakan tersebut tidak perlu dibaca secara berlebihan sebagai pengganti peran pemerintah atau lembaga kemanusiaan. Sebuah toko tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan pascabencana. Ia tidak dapat menggantikan distribusi logistik dalam skala besar, pelayanan kesehatan, evakuasi, pendataan korban, ataupun pemulihan infrastruktur.
Justru di situlah nilai tindakan Nurdin berada. Ia melakukan sesuatu dalam lingkup yang memang dapat dijangkaunya. Ia memiliki toko, memiliki barang, memiliki karyawan, dan memiliki akses langsung kepada masyarakat. Sumber daya itulah yang digunakan untuk merespons kebutuhan yang terlihat di sekelilingnya.
Dalam situasi bencana, respons semacam itu dapat menjadi bagian dari ketahanan masyarakat. Bantuan pemerintah dan lembaga kemanusiaan tetap menjadi unsur utama, tetapi masyarakat setempat juga memiliki kemampuan untuk bergerak berdasarkan pengetahuan mereka mengenai kebutuhan di lingkungan sendiri.
Kisah Maci Mart memperlihatkan bahwa ketahanan sosial tidak selalu dibangun melalui lembaga besar. Ia juga dapat tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat oleh warga, pemilik usaha, pekerja, tetangga, dan komunitas.
Di tempat lain, bentuknya mungkin berbeda. Seorang pemilik warung bisa menyediakan air minum. Pemilik kendaraan dapat membantu mobilisasi warga. Apotek dapat memastikan obat-obatan tertentu tersedia. Pengusaha jasa dapat memberikan layanan yang dibutuhkan. Tidak semua orang mempunyai sumber daya yang sama, tetapi setiap orang dapat melihat apa yang mungkin dilakukan dari posisi masing-masing.
Nurdin juga menyebut bahwa cabang lain dari usahanya tetap melayani penarikan uang bagi masyarakat yang membutuhkan. Informasi ini diberitakan Antaran.id dan sejumlah media lain berdasarkan pernyataannya dalam video.
Layanan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan warga dalam keadaan darurat tidak selalu berbentuk barang. Akses terhadap uang tunai juga dapat menjadi persoalan ketika aktivitas ekonomi terganggu. Karena itu, keberadaan layanan yang tetap berjalan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan lain yang tidak tersedia dalam bentuk bantuan barang.
Tetapi ada satu hal yang tetap harus dijaga: solidaritas tidak boleh berubah menjadi romantisasi. Tindakan Nurdin patut diapresiasi karena faktanya ia menggunakan sumber daya usahanya untuk membantu warga. Namun, pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal membutuhkan ekosistem kebencanaan yang mendukung agar kontribusi semacam itu dapat berlangsung secara aman, terkoordinasi, dan tepat sasaran.
Bencana pada akhirnya membutuhkan kerja bersama. Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya publik. Lembaga kemanusiaan mempunyai pengalaman distribusi. Relawan memiliki jaringan lapangan. Sementara masyarakat dan pelaku usaha lokal mengetahui kebutuhan sehari-hari di lingkungan mereka. Ketika unsur-unsur tersebut saling terhubung, bantuan dapat bergerak lebih cepat dari pusat-pusat distribusi menuju orang yang membutuhkan.
Kisah Nurdin menjadi menarik karena berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah toko dan keputusan untuk membuka pintunya kembali.
Tidak ada angka besar yang perlu dibesar-besarkan untuk memahami maknanya. Tidak perlu pula menjadikannya sebagai kisah kepahlawanan. Cukup melihat apa yang dilakukan ketika situasi tidak mudah.
Toko masih berantakan. Para pekerja juga terdampak. Keluarga mereka membutuhkan perhatian. Gempa susulan masih terjadi. Tetapi pintu toko dibuka, dan kebutuhan tertentu disiapkan bagi warga yang memerlukan.
Di tengah bencana, keputusan seperti itu memiliki arti karena masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar instruksi untuk bertahan. Mereka membutuhkan akses terhadap barang, informasi, layanan, dan orang-orang yang bersedia membantu.
Karena itu, kisah Maci Mart Reo sesungguhnya bukan hanya cerita tentang seorang pemilik toko yang memberikan susu dan popok. Ia adalah cerita tentang bagaimana sumber daya yang berada di tengah masyarakat dapat digunakan ketika keadaan berubah secara mendadak.
Gempa mengubah banyak hal dalam hitungan detik. Rumah bisa rusak, barang dagangan bisa berantakan, aktivitas ekonomi dapat terhenti, dan rasa aman masyarakat terguncang. Tetapi respons terhadap bencana tidak seluruhnya ditentukan oleh besarnya kerusakan. Ia juga dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat untuk saling merespons.
Dalam konteks itulah tindakan Nurdin menjadi relevan untuk dilihat lebih jauh. Ia tidak menyelesaikan bencana. Ia hanya mengambil bagian kecil dari persoalan yang berada di depan matanya. Namun, bagian kecil tersebut menunjukkan prinsip yang penting: dalam keadaan darurat, aset lokal dapat menjadi bagian dari solusi lokal.
Pelajaran tersebut juga penting bagi dunia usaha. Tanggung jawab sosial tidak selalu harus diwujudkan dalam program besar atau kegiatan seremonial. Dalam situasi tertentu, tanggung jawab sosial dapat muncul dalam keputusan yang sangat praktis: membuka akses, menyediakan barang yang dibutuhkan, tidak mengambil keuntungan dari kelangkaan, atau membantu warga memperoleh layanan yang tetap mereka perlukan.
Pada saat yang sama, tindakan semacam itu perlu ditempatkan dalam kerangka yang sehat. Kepedulian sosial tidak berarti mengabaikan keselamatan pekerja atau keberlanjutan usaha. Pelaku usaha tetap membutuhkan tata kelola, koordinasi, dan informasi yang benar. Bantuan juga harus diarahkan kepada kebutuhan yang benar-benar mendesak agar tidak menimbulkan persoalan baru.
Justru karena itu, kisah Maci Mart dapat dibaca sebagai contoh kecil tentang pentingnya kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah dalam menghadapi bencana.
BMKG sendiri terus memperbarui informasi mengenai aktivitas gempa susulan Flores. Hingga 21 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 4.258 gempa susulan, 118 di antaranya dirasakan masyarakat dan 31 memiliki magnitudo di atas 5,0. BMKG menyebut aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung dan meminta masyarakat tetap waspada.
Angka tersebut membuat kisah di Reo mendapatkan konteks yang lebih luas. Solidaritas masyarakat bukan muncul setelah keadaan benar-benar pulih. Ia muncul ketika ketidakpastian masih berlangsung.
Di situlah nilai cerita Nurdin berada.
Ia tidak menunggu keadaan menjadi sempurna untuk membantu. Ia menggunakan apa yang ada di tangannya, dari sebuah toko yang juga terkena dampak gempa, untuk memenuhi kebutuhan sebagian warga di sekitarnya.
Barangkali itulah ukuran sederhana dari ketangguhan sebuah komunitas. Bukan hanya kemampuan untuk berdiri kembali setelah bencana, tetapi juga kemampuan untuk saling menopang ketika proses untuk bangkit itu belum selesai.
Pintu Maci Mart yang dibuka setelah gempa akhirnya menjadi lebih dari sekadar pintu sebuah toko. Ia menjadi gambaran kecil tentang bagaimana aktivitas ekonomi dapat bersentuhan dengan kepentingan sosial ketika masyarakat berada dalam keadaan darurat.
Dan dari sebuah toko di Reo, Flores, muncul pelajaran yang sederhana: ketika keadaan berubah dan banyak orang kehilangan kepastian, apa yang kita miliki tidak selalu harus berhenti sebagai milik pribadi. Dalam batas kemampuan masing-masing, ia dapat menjadi jalan kecil agar kebutuhan orang lain terpenuhi dan kehidupan bersama dapat terus bergerak.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY