Home Artikel Mahfud MD: Suap Sudah Jadi Kultur Polri, Tagline Polisi Bersama Masyarakat Jadi Titik Balik

Mahfud MD: Suap Sudah Jadi Kultur Polri, Tagline Polisi Bersama Masyarakat Jadi Titik Balik

97
0
SHARE
Mahfud MD: Suap Sudah Jadi Kultur Polri, Tagline Polisi Bersama Masyarakat Jadi Titik Balik

Perwirasatu.co.id, 08 November 2026, ‎GARUT - Dalam program Kompas Siang di Kompas TV pada 6 November 2026, Prof. Mahfud MD menyebut ada tiga budaya yang merusak profesionalitas Polri.

‎Pertama, budaya suap-menyuap. Praktik saling tukar uang yang dapat memengaruhi pelaksanaan tugas dan pelayanan kepolisian.

‎Kedua, budaya geng-gengan. Terbentuknya kelompok-kelompok atau faksi tertentu di dalam institusi Polri.

‎Ketiga, menjadi pelindung (backup) kejahatan. Kebiasaan menjadi pelindung bagi pelaku kejahatan, termasuk jaringan mafia hingga pelaku kriminal di jalanan.

‎Menurut Prof. Mahfud, karena Polri memiliki struktur yang hierarkis, perilaku jajaran di bawah kerap mengikuti pimpinan. Karena itu masalah kultural ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperbaiki aturan atau pedoman organisasi.

‎Tagline Baru Kapolri

‎Di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, Polri memperkenalkan tagline "Polisi Bersama Masyarakat". Tagline ini menegaskan komitmen untuk hadir dan melayani rakyat.

‎Tagline tersebut menjadi konsep transformasi baru yang diusung Kapolri untuk mengubah kultur buruk di atas dan orientasi pelayanan kepolisian.

‎Inti visi dan arah perubahannya antara lain:

· ‎Tagline Baru: Menggantikan konsep "Presisi", tagline "Polisi Bersama Masyarakat" dijadikan semangat utama agar Polri tidak hanya hadir, melainkan benar-benar menyatu dengan warga.

· ‎Menghapus Paradigma "No Viral, No Justice": Anggota Polri dituntut responsif dan sigap menanggapi laporan masyarakat tanpa harus menunggu kasus viral di media sosial.

· ‎Kompas Moral Hoegeng: Mengadopsi nilai kejujuran, kesederhanaan, integritas, dan keteguhan Jenderal Hoegeng sebagai standar kerja.

· ‎Perubahan Orientasi Hasil: Keberhasilan polisi tidak lagi diukur dari jumlah kegiatan di atas kertas, tetapi dari rasa aman dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

· ‎Prinsip Continuity with Correction: Melanjutkan program yang sudah baik sambil melakukan koreksi tegas terhadap pelanggaran di internal.

‎Upaya Perbaiki Kultur Buruk

‎Upaya memperbaiki kultur buruk Polri dilakukan melalui agenda Reformasi Kultural guna mengikis mentalitas militeristik, arogansi kekuasaan, budaya koruptif, serta kekerasan sistemik yang menurunkan kepercayaan publik

‎Sejumlah langkah strategis yang harus didorong antara lain:

‎A. Pembentukan Lembaga Khusus dan Kebijakan Strategis

1. ‎Komisi Percepatan Reformasi Polri yang menyerap aspirasi masyarakat sipil seperti ICJR, YLBHI, KontraS, dan lainnya untuk merumuskan cetak biru reformasi.

2. ‎Program Quick Wins untuk membenahi perilaku hedonis-koruptif, arogansi anggota, serta mempercepat respons aduan masyarakat.

‎B. Penguatan Pengawasan dan Akuntabilitas

1. ‎Evaluasi pengawasan internal agar pelanggaran prosedur, penyalahgunaan wewenang, dan rekayasa kasus ditindak tegas secara transparan.

2. ‎Perlindungan Whistleblower bagi pelapor internal maupun eksternal yang membongkar pelanggaran.

‎C. Pembenahan Etika Profesi dan Komando

1. ‎Hak menolak perintah yang bertentangan dengan hukum, norma agama, dan kesusilaan, guna memutus rantai impunitas.

2. ‎Keteladanan pimpinan melalui pengawasan melekat dan pakta integritas.

‎D. Mengubah Budaya Setoran

1. ‎Menghapus tradisi setoran dari bawahan ke atasan yang menjadi akar pungli dan mafia hukum.

2. ‎Transparansi pelayanan publik seperti SIM, STNK, dan pelaporan perkara berbasis digital agar bersih dari pungli.

‎E. Rekonstruksi Pendidikan

‎Kurikulum humanis di Akpol, Setukpa, dan SPN dengan penguatan nilai-nilai HAM, untuk mengikis police culture menyimpang yang diturunkan dari senior ke junior.

‎Para pengamat dan lembaga masyarakat sipil menekankan, reformasi ini tidak boleh hanya berhenti pada regulasi atau bersifat top-down, melainkan harus menyentuh petunjuk taktis operasional yang dipraktikkan anggota di lapangan setiap hari.

‎Sebagai masyarakat yang terus belajar memahami dan mencintai Polri, tulisan ini mengajak segenap masyarakat untuk turut menyukseskan tagline 'Polisi Bersama Masyarakat' di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, S.I.K., http://M.Si.

‎Kang Oos Supyadin, S.E., M.M.

‎Ketua Adat Sunda (DATSUN) Kabupaten Garut - MASDA JABAR

Iklan Detail Video

Iklan_home