
Keterangan Gambar : Di musim yang semakin kering, satu sumber api di lahan yang dipenuhi vegetasi kering dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan
Perwirasatu.co.id Jakarta - Asap tidak selalu bermula dari kobaran besar. Di musim yang semakin kering, satu sumber api di lahan yang dipenuhi vegetasi kering dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan. Ketika hujan datang lebih lambat, angin bergerak, dan kelembapan tanah menurun, ruang untuk melakukan kesalahan menjadi semakin sempit.
Peringatan itu kini memiliki dasar yang kuat. Hingga Juli 2026, luas karhutla di Indonesia mencapai sekitar 202.004 hektare. Angka tersebut meningkat 47 persen dibanding periode yang sama pada 2019 dan 80 persen dibanding 2023. Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan luasan itu merupakan hasil analisis citra satelit yang dipadukan dengan data hotspot, ground check, serta laporan pemadaman.
Kondisi belum menunjukkan tanda berakhir. Pada 21 September, BMKG masih mencatat ribuan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, terutama di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. BMKG juga menyebut atmosfer relatif kering masih mendominasi sebagian Sumatera dan Kalimantan.
Di balik kondisi tersebut terdapat kombinasi cuaca yang tidak biasa. BMKG pada 22 September menyatakan El Niño berada pada kategori sangat kuat. Nilai indeks Nino3.4 pada akhir Agustus mencapai plus 2,83. Bersamaan dengan itu, Indian Ocean Dipole atau IOD juga berada pada fase yang berpotensi memperpanjang kekeringan.
Namun, El Niño bukanlah sumber api. Fenomena itu menciptakan kondisi yang membuat vegetasi, semak, serasah, dan lahan gambut lebih mudah terbakar. Api tetap membutuhkan penyulut, dan aktivitas manusia menjadi salah satu faktor penting yang harus dicegah.
Di sinilah larangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar menjadi lebih dari sekadar imbauan musiman. Dalam kondisi kering, api yang semula diperkirakan dapat dikendalikan dapat bergerak melewati batas yang tidak diperhitungkan. Pada lahan gambut, persoalannya bahkan lebih rumit karena api dapat menjalar di bawah permukaan dan sulit dideteksi.
Pemerintah memang memperkuat pemadaman melalui patroli, ground check, operasi darat, water bombing dan modifikasi cuaca. Pada 27 Agustus saja terdeteksi 717 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi dan 12.696 dengan tingkat kepercayaan menengah. Angka itu bukan jumlah kebakaran karena hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang tetap membutuhkan verifikasi lapangan.
Masalahnya, dampak kebakaran tidak berhenti di lokasi api. Pada akhir Agustus, jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar satu kilometer dan Palangka Raya sekitar 1,2 kilometer dalam kondisi berasap. Pada September, dampaknya semakin terasa pada kesehatan. Data Kementerian Kesehatan yang dikutip Reuters menunjukkan kasus gangguan pernapasan di tujuh provinsi terdampak meningkat dari 50.891 pada 1 September menjadi 113.336 pada 9 September.
Asap juga tidak mengenal batas administratif. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat yang jauh dari titik api ikut menanggung akibatnya. Sekolah, aktivitas ekonomi, layanan publik, perjalanan dan kehidupan sehari-hari dapat terganggu. Bahkan asap dapat bergerak melintasi batas negara.
Karena itu, persoalan karhutla tidak cukup dijawab dengan kemampuan memadamkan api. Teknologi satelit membantu menemukan indikasi, patroli mempercepat verifikasi, pesawat membantu menjatuhkan air, dan modifikasi cuaca berupaya menghadirkan hujan. Tetapi semua itu bekerja setelah risiko muncul.
Garis pertahanan pertama tetap berada sebelum api dinyalakan.
Tantangannya adalah memastikan pencegahan tidak berhenti pada larangan. Masyarakat membutuhkan alternatif membuka dan membersihkan lahan yang realistis, terjangkau, dan sesuai aturan. Pemerintah membutuhkan pengawasan yang cepat, sistem pelaporan yang mudah, serta penegakan hukum terhadap pembakaran yang melanggar ketentuan.
Waktu untuk mengendurkan kewaspadaan juga belum tiba. BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari kondisi normal. Bahkan, hingga akhir September, atmosfer kering masih berpotensi bertahan di sejumlah wilayah.
Maka karhutla tahun ini bukan sekadar cerita tentang api yang harus dikejar petugas. Ia adalah ujian tentang bagaimana manusia memperlakukan ruang hidup ketika alam sedang kehilangan kelembapannya.
Dalam musim yang semakin kering, pertanyaan terpenting bukan hanya seberapa cepat api dapat dipadamkan. Pertanyaan itu harus muncul lebih awal: apakah api perlu dinyalakan sama sekali?
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)


















LEAVE A REPLY