Home Artikel Bijak Dalam Menjaga Akhlak

Bijak Dalam Menjaga Akhlak

82
0
SHARE
Bijak Dalam Menjaga Akhlak

Perwirasatu.co.id, Jum,at 22 Mei 2026.

Tidak semua pesona manusia terlihat dari rupa dan kemewahan dunia. Ada orang yang wajahnya biasa saja, tetapi menenangkan hati siapa pun yang berbicara dengannya. Ada pula yang tidak banyak bicara, namun setiap kalimatnya penuh hikmah dan adab. Dalam kehidupan yang semakin keras oleh ego dan perdebatan, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari hati yang bersih, akhlak yang lembut, dan cara berpikir yang penuh kasih sayang kepada sesama.

Di zaman sekarang, manusia sering dinilai dari tampilan luar. Cara berpakaian, popularitas, status sosial, bahkan jumlah pengikut di media sosial sering dianggap sebagai ukuran daya tarik seseorang. Padahal semakin dewasa seseorang memahami kehidupan, semakin ia sadar bahwa ketenangan hati tidak lahir dari penampilan semata. Ada pesona yang jauh lebih kuat daripada wajah yang rupawan, yaitu akhlak yang baik, pikiran yang luas, dan hati yang rendah hati.

Seseorang yang mampu menghargai orang lain meski berbeda pendapat adalah pribadi yang sedang menjaga kemuliaan dirinya di hadapan Allah. Sebab tidak semua orang mampu menahan ego ketika merasa dirinya benar. Banyak manusia pandai berbicara, tetapi sedikit yang mampu berbicara dengan adab. Banyak yang mampu berargumen, tetapi sedikit yang tetap lembut ketika berbeda pandangan. Padahal Islam datang bukan hanya mengajarkan ilmu, melainkan juga mengajarkan akhlak dalam menyampaikan ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata kasar, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”

(QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang mukmin terlihat dari caranya menjaga diri ketika menghadapi perbedaan. Orang yang kuat bukanlah yang paling keras suaranya, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika emosi datang. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut pula sikapnya. Sebab ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling mulia, namun beliau tetap rendah hati kepada siapa pun. Beliau mendengarkan orang lain, tidak meremehkan pendapat, dan tidak memotong pembicaraan dengan kasar. Bahkan kepada orang yang bersalah sekalipun, beliau tetap menasihati dengan kelembutan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”

(HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Rasulullah bukanlah kecerdasan semata, melainkan akhlak yang baik. Maka tidak heran jika orang-orang yang menenangkan hati, tidak suka merendahkan, dan mampu menghargai sesama akan selalu dirindukan keberadaannya.

Ada orang yang ketika berbicara membuat orang lain merasa kecil. Ia merasa paling pintar, paling benar, dan paling hebat. Namun ada pula orang yang ilmunya luas, tetapi tetap membuat orang lain merasa dihargai. Ia tidak sibuk menunjukkan keunggulan dirinya. Ia lebih memilih menjaga hati orang lain daripada memenangkan perdebatan. Dan pribadi seperti inilah yang sebenarnya memiliki keindahan akhlak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

(QS. Luqman: 18)

Kesombongan sering kali muncul bukan karena harta, tetapi karena merasa diri lebih baik daripada orang lain. Merasa paling benar dalam pandangan, paling suci dalam amal, atau paling tinggi dalam ilmu. Padahal semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang penuh kekurangan.

Orang yang hatinya bersih akan mudah menghargai orang lain. Ia tidak memandang manusia berdasarkan jabatan, kekayaan, atau penampilan. Ia memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangan hidup yang tidak selalu terlihat. Karena itu lisannya dijaga agar tidak melukai, sikapnya dijaga agar tidak merendahkan, dan pikirannya dijaga agar tidak mudah menghakimi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak hubungan rusak bukan karena perbedaan pendapat, tetapi karena buruknya cara menyampaikan pendapat. Padahal berbeda pandangan adalah hal yang wajar dalam kehidupan manusia. Bahkan para ulama terdahulu pun memiliki banyak perbedaan dalam perkara ijtihad. Namun mereka tetap menjaga hormat dan adab satu sama lain.

Imam Syafi’i pernah berkata bahwa pendapatnya benar namun mungkin salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar. Kalimat sederhana ini menunjukkan keluasan hati seorang alim. Semakin luas ilmu seseorang, semakin ia sadar bahwa dirinya tidak mengetahui segalanya.

Maka sungguh menenangkan bertemu dengan orang yang pikirannya luas namun tetap rendah hati. Orang yang mampu berdiskusi tanpa merendahkan. Orang yang mampu berbeda pandangan tanpa memusuhi. Orang yang tetap menghormati sesama meski tidak selalu sejalan. Sebab akhlak seperti itulah yang membuat manusia dicintai bumi dan dirindukan langit.

Dalam hidup ini, jangan sibuk mempercantik penampilan tetapi lupa memperindah hati. Jangan sibuk ingin dipuji manusia tetapi lupa memperbaiki akhlak di hadapan Allah. Karena pada akhirnya yang paling membekas dari diri seseorang bukan hanya wajahnya, melainkan bagaimana ia membuat orang lain merasa dihargai, didengarkan, dan dimuliakan.

Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang lembut lisannya, luas pikirannya, dan rendah hatinya. Pribadi yang tidak mudah merendahkan orang lain meski memiliki kelebihan. Pribadi yang lebih suka menebarkan kedamaian daripada memenangkan ego. Dan semoga setiap langkah hidup kita dipenuhi akhlak mulia sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aamiin.

(Red)

Iklan Detail Video

Iklan_home