
Keterangan Gambar : Cerpen: Rumah Itu Bukan Milik Arman Lagi
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Orang orang datang untuk melihat rumah baru Arman, memuji dindingnya, menghitung luas halamannya, lalu pulang membawa dugaan masing masing. Mereka tidak pernah melihat malam ketika lelaki itu bekerja sampai matanya merah, ember yang diletakkan di bawah atap bocor, atau istrinya yang diam diam menyisihkan uang. Mereka hanya melihat rumah yang sudah berdiri, bukan harga yang dibayar untuk mewujudkannya.
Rumah itu berdiri di ujung gang dengan cat yang masih mengilap. Tidak mewah, tetapi jauh lebih baik daripada rumah lama Arman yang dindingnya kusam dan atapnya sering bocor. Sore itu beberapa tetangga berkumpul di halaman untuk makan bersama, sementara anak anak berlarian di antara kursi plastik dan pot bunga yang baru dibeli.
Darto datang paling akhir. Lelaki itu berdiri cukup lama di depan pagar, mengamati bangunan tersebut dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Hebat sekarang,” katanya setelah bersalaman. “Dulu kalau hujan kamu sibuk menaruh ember. Sekarang orang sekampung bisa berteduh di rumahmu.”
Beberapa orang tertawa. Arman ikut tersenyum, meski ia tahu kalimat itu bukan sepenuhnya candaan. Selama pembangunan rumah berlangsung, ia memang mendengar banyak komentar tentang dirinya, mulai dari dianggap sedang pamer sampai dituduh mendapat pekerjaan besar yang tidak diketahui orang lain.
Arman tidak menjelaskan apa apa. Ia hanya mempersilakan Darto duduk dan mengambil makanan yang tersedia.
“Pasti sekarang penghasilanmu besar,” kata Darto lagi.
“Cukup,” jawab Arman.
“Cukup untuk membangun rumah begini?”
Arman menatap bangunan di belakangnya. Untuk sesaat ia ingin menjawab panjang, tetapi kemudian urung. Ia tahu Darto tidak sedang bertanya tentang uang, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dahulu hidup pas pasan tiba tiba mampu memiliki rumah seperti itu.
“Dibangun sedikit sedikit,” katanya.
Jawaban itu membuat Darto tertawa kecil. “Kalau aku punya uang sebanyak itu, mungkin sudah dari dulu kubangun.”
Arman hanya mengangguk. Ia tidak mengatakan bahwa rumah itu memang dibangun sedikit sedikit, tetapi bukan dengan cara yang mungkin dibayangkan Darto.
Tiga tahun sebelumnya, ketika hujan turun seperti sore itu, Arman masih tinggal di rumah tua peninggalan orang tuanya. Atap ruang tengah bocor di tiga tempat, sehingga Mira selalu menaruh ember di bawah tetesan air. Anak mereka tidur di kamar sempit, sedangkan Arman sering memindahkan kasur ketika hujan terlalu deras.
Malam malam seperti itu membuat Arman sulit tidur. Ia bekerja sebagai tukang servis peralatan elektronik dengan penghasilan yang tidak menentu. Kadang sehari ia mendapat beberapa pelanggan, kadang dua hari berlalu tanpa satu pun orang datang membawa barang rusak.
Mira tidak pernah mengeluh. Perempuan itu menerima jahitan dari tetangga dan sesekali membuat makanan kecil untuk dititipkan di warung. Uangnya tidak seberapa, tetapi Mira selalu menyisihkan sedikit untuk kebutuhan sekolah anak anak.
Suatu malam, setelah hujan berhenti, Arman duduk di lantai sambil menghitung uang yang tersisa. Di depannya ada tagihan sekolah, biaya listrik, dan beberapa komponen elektronik yang harus dibeli untuk pekerjaan esok hari.
“Kalau bulan depan ada lebih,” kata Arman, “kita mulai memperbaiki atap.”
Mira sedang melipat pakaian. Ia berhenti sebentar lalu menatap suaminya.
“Bulan depan juga belum tentu lebih.”
Arman tersenyum getir. “Makanya aku bilang kalau ada lebih.”
Mira tidak menjawab. Ia tahu suaminya sedang lelah, tetapi ia juga tahu kalimat semacam itu sudah terlalu sering diucapkan.
Beberapa hari kemudian, Arman mendapat tawaran pekerjaan tambahan dari sebuah toko elektronik di kota. Ia diminta memperbaiki barang barang rusak di luar jam kerja dan dibayar berdasarkan jumlah barang yang selesai diperbaiki.
Pekerjaan itu mengharuskannya pulang lebih malam. Setelah makan dan mandi, Arman kembali duduk di depan meja kecil dengan lampu putih yang menyilaukan. Ia membongkar kipas angin, televisi, penanak nasi, dan berbagai peralatan lain sementara Mira dan anak anaknya sudah tidur.
Malam pertama ia bekerja sampai pukul sebelas. Malam berikutnya sampai tengah malam. Pada minggu ketiga, Mira terbangun dan melihat suaminya masih membungkuk di depan meja dengan mata merah.
“Besok saja,” katanya.
“Ini harus selesai.”
“Kamu juga harus selesai tidur.”
Arman menoleh. “Kalau aku tidur, siapa yang mengerjakannya?”
Mira tidak membalas. Ia mengambilkan air putih, meletakkannya di samping suaminya, lalu kembali ke kamar. Arman memandangi gelas itu beberapa saat sebelum kembali bekerja.
Uang tambahan mulai terkumpul. Namun setiap kali tabungan mencapai jumlah tertentu, selalu ada kebutuhan yang datang lebih dulu. Anak sulungnya membutuhkan biaya sekolah, ibunya harus berobat, mesin servis rusak, dan atap rumah semakin parah setelah diterpa angin.
Tabungan rumah berkali kali berkurang. Arman mulai menyimpan uang dalam amplop terpisah yang ia beri tulisan kecil: rumah.
Mira pernah melihat amplop itu.
“Kalau nanti terpakai lagi bagaimana?”
“Ya, isi lagi.”
“Kalau terus terpakai?”
Arman menutup amplop tersebut. “Berarti belum waktunya.”
Mira memandang suaminya cukup lama. Ia tahu Arman ingin memiliki rumah yang lebih baik, tetapi ia juga melihat perubahan yang tidak disukai. Arman mulai mudah marah ketika pekerjaan terganggu, jarang mengobrol dengan anak anak, dan beberapa kali tertidur saat sedang makan.
Suatu malam, hujan turun sangat deras. Air masuk melalui celah atap dan menggenang di ruang tengah. Arman bangun dengan kesal, mengambil ember, lalu memindahkan meja agar tidak terkena air.
Anak bungsunya terbangun.
“Ayah, rumah kita kapan tidak bocor lagi?”
Arman terdiam.
Ia ingin menjawab bahwa sebentar lagi. Namun kalimat itu sudah terlalu sering ia ucapkan, sedangkan atap di atas kepala mereka masih sama.
“Tidur lagi,” katanya.
Anaknya menurut. Arman kemudian duduk di dekat ember yang menampung air hujan. Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa kerja kerasnya tidak membawa mereka ke mana mana.
Mira datang membawa dua gelas teh. Ia duduk di samping Arman.
“Capek?”
Arman mengangguk.
“Kalau capek, berhenti sebentar.”
“Kalau berhenti, rumah ini tetap begini.”
Mira menatap ember di depan mereka. “Rumah boleh tetap begini. Tapi jangan sampai kamu yang ikut rusak.”
Kalimat itu membuat Arman diam.
Malam itu ia mematikan lampu meja lebih cepat daripada biasanya. Tidak ada pekerjaan tambahan sampai tengah malam. Tidak ada televisi yang dibongkar, tidak ada kipas yang diperbaiki. Arman tidur sebelum pukul sepuluh, dan untuk pertama kalinya setelah berbulan bulan ia bangun tanpa merasa kepalanya penuh suara mesin dan angka.
Keesokan harinya, Arman membuat catatan baru. Ia tidak hanya menuliskan pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga membagi waktu kerja, waktu keluarga, dan waktu istirahat. Ia tetap mengambil pekerjaan tambahan, tetapi tidak lagi menerima semua pekerjaan hanya karena takut kehilangan uang.
Perubahan kecil itu justru membuat pekerjaannya lebih baik. Pelanggan mulai percaya kepadanya karena hasil perbaikannya rapi. Toko tempatnya bekerja kemudian menawarinya pelatihan teknisi, dan beberapa bulan setelah itu ia mendapat pekerjaan tetap dengan penghasilan yang lebih stabil.
Arman tidak langsung kaya. Ia bahkan masih menghitung uang belanja dengan cermat. Bedanya, kini setiap bulan ada sedikit uang yang benar benar bisa disimpan.
Amplop bertuliskan rumah kembali terisi.
Kali ini Mira ikut memasukkan uang.
Arman memperhatikannya.
“Dari mana?”
“Jahitan.”
“Buat apa?”
Mira mengangkat bahu. “Katanya kita mau punya rumah.”
Arman tersenyum. Ia tidak tahu bahwa selama ini Mira juga menyimpan uang sendiri. Perempuan itu tidak pernah mengatakan jumlahnya, tidak pernah membanggakannya, bahkan tidak pernah mengingatkan Arman bahwa rumah tersebut dibangun oleh dua orang yang sama sama bekerja.
Tahun berikutnya, fondasi rumah mulai dibuat.
Tidak ada kontraktor besar. Tidak ada pekerjaan yang berlangsung sekaligus. Ketika uang cukup untuk membeli bahan bangunan, mereka membeli. Ketika uang habis, pembangunan berhenti.
Dinding naik sedikit demi sedikit.
Atap terpasang beberapa bulan kemudian.
Lantai menyusul setelahnya.
Arman sering pulang kerja lalu berdiri di depan bangunan yang belum selesai. Ia tidak pernah merasa bangunan itu megah. Baginya, setiap dinding hanya mengingatkan pada malam malam yang panjang, setiap pintu mengingatkan pada tagihan yang pernah menunggu, dan setiap jendela mengingatkan pada anaknya yang dulu bertanya kapan hujan tidak lagi masuk rumah.
Ketika rumah selesai, Arman tidak mengadakan pesta besar. Mira hanya mengusulkan makan bersama dengan tetangga, dan Arman menyetujuinya.
Pada hari itulah Darto datang dan mengatakan bahwa Arman sekarang sudah berubah.
“Dulu sederhana,” katanya. “Sekarang rumah saja dibuat bagus.”
Arman menahan senyum.
“Rumahnya memang bagus.”
“Jangan bilang tidak senang dipuji.”
Arman akhirnya tertawa. “Aku senang.”
Darto terlihat sedikit terkejut.
Arman melanjutkan, “Siapa bilang aku tidak boleh senang?”
Untuk pertama kalinya, Darto tidak punya jawaban.
Sore semakin turun. Setelah tamu pulang, Arman duduk di teras bersama Mira. Anak anak sudah masuk kamar. Jalan di depan rumah mulai sepi dan udara membawa bau tanah setelah hujan.
Mira menyodorkan teh.
“Sekarang puas?”
Arman melihat rumahnya.
“Lumayan.”
“Lumayan?”
“Kalau bilang sangat puas, nanti kamu kira aku sombong.”
Mira tertawa.
Untuk beberapa menit mereka hanya duduk. Arman memandangi halaman yang masih belum sepenuhnya tertata. Di tempat itu dulu ada ember yang dipakai untuk menampung air hujan. Sekarang ember itu tidak lagi digunakan.
“Masih ingat malam itu?” tanya Mira.
“Malam yang mana?”
“Waktu kamu bilang mau berhenti.”
Arman tersenyum. “Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Kamu bilang rumah ini terlalu jauh.”
Arman tidak membantah.
Mira kemudian masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah map tipis. Ia meletakkannya di atas meja.
“Ini apa?”
“Buka.”
Arman membuka map tersebut. Ada beberapa lembar dokumen di dalamnya. Ia membaca perlahan, kemudian mengangkat wajah.
“Ini surat apa?”
“Surat tanah.”
Arman mengernyit.
“Tanah siapa?”
Mira tidak menjawab.
Arman membaca lagi nama yang tercantum dalam dokumen itu. Bukan namanya. Bukan nama Mira. Ia membaca sekali lagi karena mengira matanya salah.
“Rafi?”
Mira mengangguk.
Rafi adalah anak lelaki yang beberapa kali datang ke tempat servis Arman. Ibunya bekerja mencuci pakaian di rumah orang. Anak itu sering membantu Arman mengangkat barang dan kadang belajar di sudut tempat kerja sambil menunggu ibunya pulang.
Arman pernah bercerita kepada Mira bahwa Rafi ingin menjadi teknisi, tetapi tidak yakin bisa melanjutkan sekolah.
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan lalu.”
“Uangnya dari mana?”
Mira menatap suaminya.
“Dari kita.”
Arman menunduk lagi.
Ia baru menyadari bahwa uang yang selama ini ia kira digunakan Mira untuk membantu pembangunan rumah ternyata sebagian disimpan untuk membeli sebidang tanah kecil di belakang rumah mereka.
“Kenapa?”
Mira menarik napas.
“Karena waktu kita masih tinggal di rumah bocor, kamu pernah bilang bahwa yang paling kamu inginkan adalah anak anak bisa tidur tenang ketika hujan.”
Arman mengangguk perlahan.
“Kamu juga pernah bilang,” lanjut Mira, “kalau suatu hari kita punya rumah yang cukup, kita ingin bisa membantu orang lain.”
Arman mengingatnya. Ia pernah mengucapkan kalimat itu, tetapi sudah lama sekali dan dalam keadaan yang bahkan tidak ia anggap penting.
“Jadi rumah ini untuk Rafi?”
“Bukan rumah ini.”
Mira menunjuk ke belakang.
“Tanah itu.”
Arman bangkit dan berjalan ke halaman belakang. Dari sana terlihat sebidang tanah kecil yang selama ini ia kira masih kosong. Dadanya terasa sesak ketika menyadari bahwa Mira telah menyimpan rencana itu tanpa pernah membuatnya merasa bahwa keberhasilan mereka harus dipamerkan.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Kalau kubilang, mungkin kamu akan memakai uangnya untuk rumah kita.”
Arman tertawa kecil. Setelah itu ia diam.
Mira berdiri di sampingnya.
“Rumah kita sudah cukup.”
Arman menatap rumah yang baru selesai dibangun. Ia tiba tiba teringat semua yang pernah dilaluinya, mulai dari ember, malam malam panjang, tagihan, pekerjaan tambahan, sampai hari ketika ia pertama kali melihat anaknya tidur tanpa harus memindahkan kasur.
Rumah itu memang impiannya.
Tetapi ternyata bukan akhir dari perjuangan.
Beberapa bulan kemudian, sebuah rumah kecil berdiri di tanah belakang rumah Arman. Tidak besar, tidak memiliki pagar tinggi, dan tidak dicat dengan warna mahal. Rafi dan ibunya pindah ke sana pada suatu pagi ketika hujan baru saja berhenti.
Darto datang melihat.
Ia berdiri di halaman cukup lama sebelum akhirnya bertanya kepada Arman.
“Jadi selama ini kamu membangun rumah supaya bisa membantu orang lain?”
Arman menggeleng.
“Tidak.”
Darto menunggu.
“Aku membangun rumah supaya keluargaku punya tempat yang layak.”
“Lalu rumah ini?”
Arman menoleh ke rumah kecil di belakangnya.
“Yang itu karena aku akhirnya tahu, punya tempat berteduh membuat kita lebih mudah mengerti orang yang belum memilikinya.”
Darto terdiam.
Tidak ada kalimat besar setelah itu. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada orang yang mengunggah foto Arman ke media sosial sebagai orang baik.
Beberapa tahun berlalu.
Rumah Arman mulai tampak biasa. Catnya tidak lagi mengilap, halaman berubah, dan rumah rumah baru bermunculan di sepanjang gang. Orang orang juga tidak lagi membicarakan bagaimana Arman membangun rumah dari hasil kerja kerasnya.
Namun Arman masih menyimpan satu kebiasaan.
Setiap hujan turun, ia membuka jendela dan melihat ke belakang rumah.
Dari sana ia bisa melihat Rafi yang kini sudah dewasa. Anak itu telah menjadi teknisi dan beberapa kali membantu Arman menerima pekerjaan yang semakin banyak.
Suatu sore, Rafi datang membawa sebuah amplop.
“Pak, ini.”
Arman membukanya.
Di dalamnya ada uang.
“Untuk apa?”
“Bagian saya dari pekerjaan bulan ini.”
Arman mengembalikannya.
“Ambil.”
“Tapi saya sudah punya rumah.”
Arman menatapnya.
Rafi tersenyum. “Saya mau bantu anak lain.”
Arman tidak segera menjawab.
Hujan mulai turun. Tetes pertama mengenai genting, kemudian disusul suara hujan yang semakin rapat. Arman memandang ke dalam rumahnya sendiri.
Tidak ada ember di ruang tengah.
Tidak ada kasur yang harus dipindahkan.
Tidak ada anak yang terbangun karena air menetes dari langit langit.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Arman baru menyadari bahwa rumah yang dulu ia bangun untuk keluarganya telah menjadi awal dari perjalanan yang tidak pernah ia rencanakan.
Ia menatap Rafi.
“Kalau begitu, jangan kasih ke saya.”
“Lalu?”
“Cari orang yang lebih membutuhkan.”
Rafi mengangguk.
Arman kembali melihat hujan.
Dulu, ia bekerja keras agar keluarganya tidak lagi takut pada hujan. Kini, setiap kali hujan turun, ia justru teringat bahwa keberhasilan tidak selalu berhenti ketika seseorang berhasil memiliki sesuatu.
Kadang keberhasilan baru benar benar dimulai ketika seseorang tidak lagi takut kehilangan apa yang sudah dimilikinya.
Beberapa hari kemudian, Darto datang membawa kabar bahwa seorang warga ingin membeli rumah Arman dengan harga tinggi.
Arman mendengarkan tanpa banyak bicara.
“Kamu mau jual?” tanya Darto.
Arman melihat rumah itu dari teras.
Rumah yang dibangun bertahun tahun.
Rumah yang dibayar dengan malam malam panjang.
Rumah yang dulu menjadi alasan ia bertahan.
“Kalau jadi dijual, aku mau pindah ke mana?”
Darto tertawa. “Ya cari rumah lain.”
Arman ikut tertawa.
“Bukan itu masalahnya.”
“Lalu?”
Arman menunjuk ke belakang rumah.
“Tanah Rafi masih bisa diperluas.”
Darto berhenti tertawa.
Saat itulah ia mengerti.
Rumah yang selama ini ia kira dibangun untuk menunjukkan keberhasilan Arman ternyata bukan sesuatu yang ingin dipertahankan mati matian oleh lelaki itu.
Rumah itu pernah menjadi tujuan.
Kemudian menjadi tempat pulang.
Dan pada akhirnya, mungkin akan menjadi sesuatu yang harus dilepaskan agar kerja keras Arman bisa melahirkan rumah bagi lebih banyak orang.
Darto menatap Arman lama sekali.
“Kalau begitu, sebenarnya apa yang kamu bangun selama ini?”
Arman tidak menjawab.
Ia hanya membuka pintu rumah.
Dari dalam terdengar suara anak anaknya yang sudah dewasa sedang bercanda. Di belakang rumah, Rafi memanggil ibunya. Hujan semakin deras, tetapi tidak seorang pun mencari ember.
Arman berdiri di ambang pintu dan tersenyum.
Barangkali selama ini ia memang membangun rumah.
Tetapi tanpa disadarinya, kerja keras itu sedang membangun sesuatu yang jauh lebih sulit: sebuah kehidupan yang tidak berhenti pada apa yang berhasil dimiliki.
Dan ketika akhirnya rumah itu benar benar tidak lagi menjadi miliknya, Arman tahu satu hal.
Ia tidak kehilangan rumah.
Ia hanya akhirnya menemukan arti pulang.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY