
Keterangan Gambar : Beijing sedang berusaha mengubah penelitian plasma menjadi kemampuan rekayasa energi. Tantangannya kini bukan sekadar menciptakan plasma panas, tetapi menjadikannya sumber listrik yang stabil dan ekonomis.
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Istilah “matahari buatan” terdengar seperti teknologi dari masa depan. Namun di Hefei, China, eksperimen fusi nuklir telah bergerak semakin jauh dari sekadar ambisi ilmiah. EAST, BEST dan teknologi magnet superkonduktor menunjukkan satu hal: Beijing sedang berusaha mengubah penelitian plasma menjadi kemampuan rekayasa energi. Tantangannya kini bukan sekadar menciptakan plasma panas, tetapi menjadikannya sumber listrik yang stabil dan ekonomis.
Pada Januari 2025, Experimental Advanced Superconducting Tokamak atau EAST mencatat rekor dengan mempertahankan plasma high-confinement selama 1.066 detik. Rekor itu memperpanjang capaian sebelumnya yang bertahan 403 detik. Angka tersebut penting karena fusi membutuhkan plasma yang sangat panas sekaligus stabil dalam waktu panjang.
Tetapi di sinilah publik perlu berhati-hati. Rekor plasma bukan pembangkit listrik. EAST belum menghasilkan listrik komersial dari fusi. Bahkan para penelitinya mengakui bahwa perangkat fusi masa depan harus mampu beroperasi stabil dan efisien selama ribuan detik agar dapat mendukung pembangkitan listrik secara berkelanjutan.
EAST juga memperlihatkan bahwa persoalan fusi bukan sekadar mencapai temperatur ekstrem. Pada Januari 2026, peneliti China melaporkan keberhasilan memasuki apa yang disebut density-free regime, kondisi ketika plasma dapat dipertahankan pada kepadatan yang melampaui batas konvensional tanpa mengalami ketidakstabilan yang merusak. Temuan ini penting karena kepadatan plasma merupakan salah satu faktor yang menentukan kemampuan reaksi fusi menghasilkan tenaga.
Jika EAST adalah laboratorium untuk menguji batas-batas fisika plasma, China kini menyiapkan lompatan berikutnya melalui Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak atau BEST. Fasilitas ini ditargetkan selesai pada akhir 2027 dan dirancang untuk menguji plasma deuterium-tritium dalam kondisi burning plasma. China menargetkan demonstrasi perolehan daya fusi bersih dan pembangkitan listrik sekitar 2030.
Kata “ditargetkan” menjadi penting. Tahun 2030 bukan jaminan bahwa China akan memiliki pembangkit listrik fusi komersial. Ia merupakan sasaran teknologi yang masih harus dibuktikan. Perbedaan ini menentukan apakah sebuah feature menjadi laporan sains yang kritis atau berubah menjadi promosi teknologi.
Di balik plasma terdapat persoalan yang bahkan lebih sulit. Reaktor fusi membutuhkan magnet superkonduktor yang mampu menghasilkan medan magnet kuat untuk mengurung plasma bersuhu ratusan juta derajat Celsius. Pada Juni 2026, China mengumumkan keberhasilan pengujian magnet medan toroidal seberat 582 ton. Ukuran dan kapasitasnya menunjukkan bahwa perlombaan fusi telah memasuki wilayah rekayasa raksasa, bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium.
Magnet tersebut penting, tetapi bukan jawaban terakhir. Reaktor fusi juga harus menghadapi bombardir neutron, kerusakan material, pengelolaan tritium, pembuangan panas, sistem pendinginan, konversi panas menjadi listrik, serta kebutuhan untuk melakukan perawatan dalam lingkungan yang sangat ekstrem. Bahkan penelitian China sendiri mengakui bahwa ekstraksi panas dan konversi energi menjadi listrik masih merupakan persoalan besar menuju komersialisasi.
Di sinilah ukuran keberhasilan “matahari buatan” seharusnya ditempatkan. Bukan pada seberapa tinggi temperaturnya, seberapa besar magnetnya, atau seberapa spektakuler rekornya, melainkan apakah seluruh sistem mampu bekerja sebagai pembangkit energi.
China memiliki alasan strategis untuk bergerak cepat. Fusi menjanjikan sumber energi dengan bahan bakar yang relatif melimpah dan emisi karbon operasional yang sangat rendah. Jika kelak teknologi ini berhasil secara komersial, dampaknya dapat menjalar jauh melampaui sektor listrik, termasuk industri berat, hidrogen, pusat data dan ketahanan energi.
Namun peluang itu belum sama dengan kenyataan. Fusi telah menjadi sasaran penelitian selama puluhan tahun dan berkali-kali terbentur persoalan baru ketika satu masalah berhasil diatasi. Karena itu, klaim bahwa China “segera memiliki matahari kedua” harus ditolak. Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa China sedang membangun kemampuan yang diperlukan untuk mendekati pembangkit fusi.
Perlombaan itu pun bukan milik China seorang diri. Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea Selatan dan berbagai negara lain mengembangkan teknologi fusi dengan pendekatan berbeda. China sendiri terlibat dalam ITER, proyek internasional besar yang menjadi salah satu eksperimen penting menuju energi fusi.
Yang membuat langkah China menarik adalah keterhubungan antara penelitian, pembangunan fasilitas, kemampuan manufaktur dan kebijakan industri. Jika Beijing mampu mempertahankan kemajuan tersebut, keunggulannya bukan hanya pada satu reaktor, melainkan pada kemampuan memproduksi berbagai komponen kompleks yang diperlukan oleh industri fusi.
Pertanyaan terbesar bukan kapan China berhasil “menyalakan matahari”. Pertanyaannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: kapan panas yang dikurung selama eksperimen dapat diubah menjadi listrik yang stabil, aman dan ekonomis?
EAST telah memperpanjang umur plasma. Penelitian density-free regime mencoba memperluas batas kepadatannya. BEST dipersiapkan untuk membawa eksperimen menuju burning plasma, sementara magnet raksasa menunjukkan kemampuan rekayasa yang semakin matang.
Tetapi perjalanan dari eksperimen menuju pembangkit masih panjang. Rekor plasma bukan listrik murah. Magnet raksasa bukan pembangkit. Dan target 2030 bukan kepastian.
Jika suatu hari seluruh persoalan itu berhasil dipecahkan, “matahari buatan” tidak lagi menjadi metafora. Ia akan berubah menjadi teknologi energi. Sampai hari itu tiba, yang sedang dibangun China bukan matahari kedua, melainkan jalan panjang menuju kemungkinan lahirnya sumber energi baru.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY