
Keterangan Gambar : Islam tidak menuntut manusia menjadi makhluk yang tidak pernah salah. Islam mengajarkan agar ketika tergelincir, seseorang segera bertaubaot
Perwirasatu.co.id , jakarta - Setiap manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi seorang mukmin hendaknya tidak menjadikan kesalahan sebagai kebiasaan, terlebih dalam urusan lisan. Dusta yang dianggap kecil dapat tumbuh menjadi kebiasaan, merusak kepercayaan, mengeraskan hati, dan menjauhkan seseorang dari akhlak yang dicintai Allah. Karena itu, kejujuran harus dijaga dalam setiap keadaan.
Islam tidak menuntut manusia menjadi makhluk yang tidak pernah salah. Islam mengajarkan agar ketika tergelincir, seseorang segera bertaubat, memperbaiki diri, dan kembali kepada kebenaran. Di antara akhlak yang sangat ditekankan adalah kejujuran. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ٧٠ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ٧١
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70–71)
Perhatikanlah, Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk berkata, tetapi memerintahkan قولًا سديدًا, perkataan yang benar, lurus, tepat, dan tidak menyimpang. Lisan seorang mukmin semestinya menjadi jalan lahirnya kebaikan, bukan sumber kerusakan bagi dirinya maupun orang lain.
Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan yang sangat tegas tentang bahaya dusta. Beliau bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, dia berdusta; apabila berjanji, dia mengingkari; dan apabila dipercaya, dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan alasan bagi kita untuk mudah menuduh seseorang sebagai munafik. Sebaliknya, hadis tersebut merupakan peringatan keras agar setiap muslim melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Jangan sampai sifat yang menjadi ciri kemunafikan itu tumbuh dalam perilaku kita, lalu dianggap biasa karena dilakukan berulang-ulang.
Dusta sering kali bermula dari sesuatu yang tampaknya sederhana. Berbohong agar tidak dimarahi, melebih-lebihkan cerita supaya terlihat hebat, menyembunyikan kesalahan, memberikan alasan yang tidak benar, atau berdusta demi mendapatkan keuntungan. Ketika kebohongan pertama dibiarkan, hati menjadi lebih mudah menerima kebohongan berikutnya. Pada akhirnya, seseorang dapat kehilangan rasa malu terhadap dosa yang dahulu membuatnya takut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga. Seseorang senantiasa berkata benar dan berusaha untuk jujur hingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Jauhilah kebohongan, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kejujuran bukan hanya ketika berkata kepada orang lain, tetapi juga ketika berhadapan dengan diri sendiri. Jujur mengakui kesalahan, jujur dalam pekerjaan, jujur dalam berdagang, jujur dalam keluarga, jujur dalam amanah, serta jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Sebab seorang mukmin yakin bahwa manusia mungkin tidak mengetahui kebohongannya, tetapi Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Maka marilah kita menjaga lisan sebelum kata-kata keluar. Tidak semua yang kita ketahui harus disampaikan, dan tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan cerita yang dibuat-buat. Jika tidak tahu, katakan tidak tahu. Jika salah, akui kesalahan. Jika lupa, katakan lupa. Jika berjanji, tunaikan. Jika dipercaya, jagalah amanah.
Jangan meremehkan dusta hanya karena tidak segera terlihat akibatnya. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh oleh satu kebohongan. Sebaliknya, kejujuran yang mungkin terasa berat pada awalnya dapat menjadi sebab lahirnya ketenangan, kehormatan, dan keberkahan.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari sifat dusta, menjaga lisan kita dari perkataan yang batil, menguatkan keberanian kita untuk berkata benar, dan menjadikan kejujuran sebagai akhlak yang melekat dalam kehidupan. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang benar dalam ucapan, benar dalam amanah, benar dalam perbuatan, dan kelak dikumpulkan bersama orang-orang yang benar.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang jujur, jagalah lisan kami dari kebohongan, sucikan hati kami dari kemunafikan, dan teguhkanlah kami di atas kebenaran hingga kami berjumpa dengan-Mu.”
Sumber
(Dwi taufan Hidayat)


















LEAVE A REPLY