
Keterangan Gambar : Ratna Djuami adalah salah satunya. Anak angkat Soekarno dan Inggit Garnasih itu tumbuh bersama keluarga yang kemudian menjadi bagian penting perjalanan sejarah Indonesia
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Sejarah Indonesia lebih sering mengingat mereka yang berdiri di podium, berpidato, mengambil keputusan, atau tampil dalam foto resmi. Namun di balik peristiwa besar terdapat orang-orang yang menyaksikannya dari ruang keluarga. Ratna Djuami adalah salah satunya. Anak angkat Soekarno dan Inggit Garnasih itu tumbuh bersama keluarga yang kemudian menjadi bagian penting perjalanan sejarah Indonesia.
Ratna Djuami lahir di Bandung pada 4 Mei 1923 dari pasangan Sumarta dan Murtasih, kakak Inggit Garnasih. ANTARA, 23 Juni 2013, mencatat Ratna diangkat Soekarno dan Inggit ketika berusia sekitar 40 hari. Sejak itu ia hidup sebagai bagian dari keluarga mereka dan akrab dipanggil Omi. Kedekatan tersebut berlangsung ketika Soekarno masih menjalani perjuangan politik, jauh sebelum dirinya menjadi presiden.
Ketika Soekarno dibuang ke Ende pada 1934, Ratna ikut bersama Soekarno dan Inggit. Kajian sejarah tentang jejak Soekarno di Bengkulu juga mencatat Ratna sebagai anak angkat yang ikut dalam pengasingan ke Ende. ANTARA menyebut Ratna kemudian menjadi salah satu narasumber mengenai kehidupan Soekarno dan Inggit selama masa pembuangan. Posisi ini membuat kisah Ratna lebih dari sekadar catatan keluarga.
Pada 1938, Soekarno dipindahkan ke Bengkulu. Di kota inilah perjalanan Ratna bersinggungan dengan Fatmawati. Kompas.com, 16 Agustus 2019, mencatat Fatmawati menjadi sahabat Ratna setelah tinggal bersama keluarga Soekarno. Keduanya bersekolah di RK Vakschool Maria Purrisima dan disebut tidur dalam satu kamar. Ensiklopedia Sejarah Indonesia juga mencatat Ratna mengajak Fatmawati bersekolah di tempat yang sama.
Di titik inilah kisah keluarga berubah menjadi bagian dari sejarah nasional. Fatmawati yang semula berada dalam lingkaran pergaulan keluarga kemudian semakin dekat dengan Soekarno. Hubungan itu pada akhirnya berhadapan dengan rumah tangga Soekarno dan Inggit. Ratna berada di tengah situasi yang tidak sederhana: ia adalah anak yang dibesarkan Inggit sekaligus sahabat dekat Fatmawati.
Kisah mengenai keterlibatan Ratna dalam persoalan tersebut harus dibaca secara hati-hati. Okezone, 18 Maret 2023, mengutip buku Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik dan menyebut Ratna bersama Asmara Hadi mengetahui persoalan hubungan Soekarno dan Fatmawati serta meminta Inggit mempertimbangkan keinginan Soekarno. Karena bersumber dari rekonstruksi buku, informasi itu lebih tepat disebut sebagai kesaksian atau versi yang terdokumentasi, bukan fakta primer yang berdiri sendiri.
Soekarno dan Inggit akhirnya berpisah pada 1942. Setelah itu Soekarno menikah dengan Fatmawati. Ratna kemudian tetap dekat dengan Inggit. Sejumlah sumber mengenai kehidupan keluarga Inggit menunjukkan bahwa hubungan emosional Ratna dengan perempuan yang telah membesarkannya tidak berhenti ketika rumah tangga Soekarno dan Inggit berakhir.
Ratna selanjutnya menjalani kehidupan bersama Asmara Hadi. Ia tidak menjadi tokoh politik utama dan tidak tercatat sebagai pengambil keputusan dalam peristiwa kemerdekaan. Justru di situlah nilai sejarahnya. Ia berada dekat dengan tokoh-tokoh utama, tetapi dari posisi keluarga, bukan dari panggung kekuasaan.
Ketika Ratna wafat di Bandung pada 23 Juni 2013 dalam usia 90 tahun, ANTARA menyebutnya sebagai salah satu sumber sejarah mengenai kehidupan Soekarno dan Inggit pada masa pengasingan. Kepergiannya berarti berkurangnya saksi langsung yang mengalami kehidupan keluarga tersebut dari jarak sangat dekat.
Namun kesaksian seorang saksi tidak boleh diperlakukan sebagai kebenaran tunggal. Ingatan pribadi tetap perlu dibandingkan dengan memoar, surat, arsip, foto, dokumen pemerintah, dan kesaksian lain. Dalam kasus Ratna, sumber seperti Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H., catatan sejarah pengasingan, serta sumber kelembagaan tentang Fatmawati dapat membantu menguji dan melengkapi cerita.
Karena itu, Ratna Djuami tidak perlu ditempatkan sebagai pengganti tokoh-tokoh besar dalam sejarah Soekarno. Nilainya justru terletak pada perspektif yang berbeda. Ia memperlihatkan bahwa sejarah nasional juga memiliki sisi domestik: rumah, sekolah, persahabatan, perkawinan, dan hubungan emosional yang sering luput dari narasi politik.
Dari sudut pandang itu, Ratna adalah pintu masuk untuk membaca sejarah Soekarno dari jarak yang lebih manusiawi. Ia tidak berdiri di podium Proklamasi, tetapi pernah berada di ruang keluarga ketika hubungan orang-orang terdekatnya mengalami perubahan besar.
Sejarah akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling terkenal. Ia juga tentang siapa yang melihat, mengalami, mengingat, dan meninggalkan jejak. Ratna Djuami adalah salah satu pemilik jejak tersebut. Tugas penulis sejarah bukan memperbesar kesaksiannya tanpa kritik, melainkan merawatnya, mengujinya, dan menempatkannya secara proporsional di antara sumber-sumber sejarah yang lain.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)


















LEAVE A REPLY