Home Artikel IDJON DJANBI, PARADOKS SEJARAH DI BALIK KOPASSUS

IDJON DJANBI, PARADOKS SEJARAH DI BALIK KOPASSUS

14
0
SHARE
IDJON DJANBI, PARADOKS SEJARAH DI BALIK KOPASSUS

Keterangan Gambar : Rokus Bernardus Visser pernah mengenakan seragam militer Belanda dan memperoleh pendidikan komando di Eropa. Beberapa tahun kemudian, lelaki yang dikenal sebagai Mochammad Idjon Djanbi itu justru melatih pasukan khusus sebuah republik yang baru lepas dari kekuasaan Belanda.

Perwirasatu.co.id, 14 September 2026.

Rokus Bernardus Visser pernah mengenakan seragam militer Belanda dan memperoleh pendidikan komando di Eropa. Beberapa tahun kemudian, lelaki yang dikenal sebagai Mochammad Idjon Djanbi itu justru melatih pasukan khusus sebuah republik yang baru lepas dari kekuasaan Belanda. Paradoks itulah yang membuat namanya tetap hidup dalam sejarah Kopassus: mantan serdadu Belanda yang kemudian memilih Indonesia sebagai negeri pengabdiannya sendiri.

Catatan mengenai awal kehidupannya tidak sepenuhnya seragam. Museum Kopassus menyebut Rokus Barendregt Visser lahir di Boskoop, Belanda, 13 Mei 1914, sedangkan Tirto, 31 Maret 2019, mengutip Ken Conboy yang mencatat tahun kelahirannya 1915. Perbedaan itu tidak mengubah satu fakta penting: Visser memiliki pengalaman militer yang panjang sebelum menjadi Idjon Djanbi.

Ketika Belanda diduduki Jerman, Visser bergabung dengan militer Belanda di pengasingan. Ia pernah menjadi pengemudi Ratu Wilhelmina, menjalani pendidikan komando di Inggris, terlibat dalam Operasi Market Garden pada 1944, lalu memperoleh pendidikan pasukan para. Tirto, 31 Maret 2019, mencatat ia tiba di Indonesia bersama pasukan Belanda pada Maret 1946 dan kemudian memimpin sekolah penerjun yang akhirnya dipindahkan ke Cimahi.

Sejarah lalu mengambil belokan tak biasa. Ketika tentara Belanda meninggalkan Indonesia, Visser memilih bertahan. Ia tinggal di kawasan Lembang, menikahi perempuan Sunda, memeluk Islam, menjadi warga Indonesia dan memakai nama Mochammad Idjon Djanbi. Dari seorang perwira Belanda, ia menjalani kehidupan baru sebagai petani bunga. Namun pengalaman militernya segera kembali dicari.

Pada saat bersamaan, TNI sedang belajar dari pertempuran menghadapi Republik Maluku Selatan. Pasukan lawan yang lebih kecil ternyata mampu merepotkan kekuatan yang lebih besar karena taktik, kemampuan menembak dan gerakan individual. Kompas.com, 16 April 2022, mencatat pengalaman tersebut mendorong Letkol Slamet Riyadi menggagas satuan pemukul yang kecil, cepat dan terlatih. Setelah Slamet Riyadi gugur, gagasan itu dilanjutkan Kolonel A.E. Kawilarang.

Orang yang dibutuhkan Kawilarang ternyata tinggal tak jauh dari markas Siliwangi di Lembang. Sekitar 1952, Djanbi dipanggil dan ditawari melatih satu kompi pasukan komando. Tirto, 31 Maret 2019, mengutip autobiografi Kawilarang bahwa mantan perwira Belanda itu menerima tawaran tersebut. Ia kemudian memperoleh pangkat mayor.

Melalui Instruksi Panglima Tentara dan Teritorium III Nomor 55/Inst/PDS/52, pada 16 April 1952 lahirlah Kesatuan Komando Teritorium III, cikal bakal Korps Baret Merah. Kompas.com, 16 April 2021, mencatat pendidikan komando angkatan pertama dibuka di Batujajar pada 1 Juli 1952 dengan sekitar 400 siswa dan Idjon Djanbi sebagai instruktur utama.

Di titik inilah sejarah perlu dibaca tanpa mitologisasi. Menempatkan Djanbi sendirian sebagai “pendiri Kopassus” akan menyederhanakan proses kelahirannya. Ada gagasan Slamet Riyadi, keputusan Kawilarang, kebutuhan institusional Angkatan Darat, serta para prajurit yang membangun satuan itu. Tirto, 16 April 2019, menempatkan Slamet Riyadi, Kawilarang dan Djanbi sebagai tiga figur penting dalam sejarah awal Korps Baret Merah.

Djanbi memimpin sampai 1956. Kesatuan yang dirintisnya kemudian beberapa kali berubah nama dan organisasi sebelum akhirnya dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus. Setelah meninggalkan satuan, Djanbi kembali ke kehidupan sipil dan bekerja di sektor perkebunan. Ia meninggal di Yogyakarta pada 1 April 1977, Tirto, 31 Maret 2019.

Warisan Idjon Djanbi karena itu bukan kisah sederhana tentang “orang Belanda yang mendirikan Kopassus”. Kisahnya jauh lebih menarik: republik yang masih muda bersedia menyerap pengetahuan militer dari seseorang yang pernah berada di pihak bekas penjajah, sementara Djanbi sendiri memilih kewarganegaraan dan pengabdian baru. Sejarah akhirnya memperlihatkan bahwa asal-usul seseorang dan pilihan hidupnya tidak selalu berjalan ke arah yang sama.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home